Senin, 14 Januari 2019

TAMAN SUROBOYO: Rekomendasi Tempat Wisata Keluarga di Surabaya

TAMAN SUROBOYO: Rekomendasi Tempat Wisata Keluarga di Surabaya

Kalau cari tempat wisata di Surabaya yang keren dan menarik untuk dikunjungi, salah satu pilihannya adalah TAMAN. Iya, taman! Per 2018 lalu, dikutip dari Tribunnews, Surabaya sudah mempunyai 35 taman dan masih membangun beberapa lainnya.

Taman-taman di Surabaya memang pantas dibanggakan. Dengan biaya masuk gratis, disana warga Surabaya bisa hunting spot foto yang bagus, wisata kuliner, atau sekedar duduk santai. Tapi awas jangan berdua-duaan! Di setiap taman di Surabaya sudah terpasang tanda "Dilarang Pacaran" loh

Taman-taman di Surabaya juga sering menjadi tujuan wisata keluarga saat weekend karena dilengkapi dengan fasilitas ramah anak. Taman bermain dengan ayunan & the geng sudah pasti ada. Beberapa taman juga dilengkapi dengan lapangan futsal, lapangan basket, bahkan tur menyusuri sungai dengan perahu motor. Gimana? Masuk, Pak Eko?

Beberapa waktu lalu, saya main-main ke satu taman yang belum pernah saya kunjungi di daerah Kenjeran:

Taman Suroboyo


LOKASI TAMAN SUROBOYO

Taman Suroboyo ini letaknya pas di sebelah Pantai Kenjeran dan pas di seberang Sentra Ikan Bulak. Kalau ada yang pernah ke Jembatan Surabaya, nah Taman Suroboyo ini ada di dekat situ. Bahkan sebenarnya beberapa tempat rekreasi di Surabaya Utara berjajar berdekatan di Kecamatan Kenjeran ini.

Kalau kita datang dari arah selatan, secara berurutan kita melewati KenPark (dengan patung gurita di gerbang masuknya; lokasi Atlantis City), Pantai Kenjeran Lama (dengan dermaga kayu yang menjorok ke laut), Jembatan Surabaya (lokasi Air Mancur Menari - yang hanya dinyalakan tiap Sabtu malam, btw), dan Taman Suroboyo ini.

Kalau kita datang dari arah selatan, selama beberapa menit, kita akan berkendara di sepanjang Jl. Pantai Kenjeran dengan laut yang menghampar di sebelah timur. Ah.. I recommend to roll your windows down. Rasakan segarnya angin laut sepanjang perjalanan. Apalagi kalau cuacanya tidak begitu panas. Perfect 

Nah, begitu terlihat tulisan TAMAN SUROBOYO terbentang di sebelah timur, langsung melipir aja ke parkiran, pemirsah..

BISA NGAPAIN AJA DI TAMAN SUROBOYO?

Taman Suroboyo ini bisa jadi pilihan tempat wisata ramah anak di dalam kota. Hampir semua aktifitas yang bisa dilakukan disini sepertinya memang dikhususkan untuk anak-anak. Bapak-bapak, Ibu-ibu, Mas dan Mbak juga bisa menikmati menghabiskan weekend disini kok.

1) Tersedia beberapa slides (apa sih Bahasa Indonesianya? Prosotan? Seluncuran? Ya itu deh. Tahu kan?!), tapi hanya sedikit, kurang dari lima. Tapi jangan khawatir. Kalau semua mainan di taman bermain penuh terpakai, masih ada permainan lainnya.

2) Kita bisa menyewa mobil mini bertenaga aki seperti yang ada di mall-mall. Untuk anak yang masih terlalu kecil dan belum bisa "menyetir", si pengelola bersedia mengemudikan mobilnya dengan remote. Sayangnya untuk Si Kakak yang sudah 8 tahun, semua mobil mini ukurannya terlalu kecil buat dia. Jadi skuter mini lebih cocok. Belajar nyetir sepeda motor, katanya. Satu kali sewa lamanya sekitar 15 menit.




3) Taman Suroboyo ini ideal dipakai untuk bermain layang-layang karena angin memang berhembus sangat kencang mengingat lokasinya yang bersebelahan langsung dengan pantai. Jangan khawatir, disana beberapa penjual layangan sudah tersedia. Ya meskipun beberapa diantara layang-layang yang ditawarkan kualitasnya tidak begitu bagus sih menurut saya, karena hanya terbuat dari plastik kemasan bekas dan batang lidi, tapi lumayan lah kalau hanya untuk anak-anak. Mereka udah seneng banget walau hanya pegang talinya dan melihat layang-layang mereka terbang meliuk-liuk di udara tertiup angin kenceng. Lagipula mereka juga gak bisa terbangkan layang-layang yang bener kan.


4) Selain bermain layang-layang, bermain gelembung sabun / bubbles juga asik loh. Karena anginnya kenceng kan ya, gelembungnya bisa langsung beterbangan gitu. Berasa syuting video klip. Iya, tenang. Banyak penjual gelembung sabun kok disana. Cobain yang pake tongkat dan tali untuk bikin gelembung jumbo. Seru.

TAMAN SUROBOYO: Rekomendasi Tempat Wisata Keluarga di Surabaya
Cobain bikin gelembung jumbo yang kayak gini | ilustrasi by Kevin Schmid

5) Ada banyak perahu nelayan tradisional yang melayani tur menyeberangi Selat Madura. Sepertinya mereka pelayan lokal yang menyewakan perahu mereka untuk mengantarkan penumpang beberapa kilometer ke tengah laut, lalu kembali lagi. Sayangnya, karena saya tidak bisa berenang, saya harus melewatkan kegiatan yang satu ini; dan karena saya paranoid, saya juga tidak mengijinkan anak-anak saya berlayar ke tengah laut tanpa ada pelampung yang disediakan.

6) Sudah ada di tepi pantai, jangan sampai melewatkan wisata kulinernya. Di sepanjang pantai, berjajar pedagang kaki lima yang menggelar lapak dengan berbagai menu ditawarkan. Lontong Kupang dan Sate Kerang jadi menu wajib lah pasti. Tapi yang lain juga banyak kok. Tinggal pilih aja: camilan macam gorengan, sempol, cireng and the geng; atau makanan berat macam Sate Ayam. Minumnya mau dalam kemasan botol atau es kelapa muda segar - tinggal pilih.

7) Satu hal yang gak boleh ketinggalan ya, buibuk: belanja. Mumpung ada di area pesisir, boronglah sepuasnya berbagai produk olahan laut: ikan panggangan, bermacam-macam keripik dan kerupuk, berbagai bentuk kerajinan tangan, atau bahan makanan kering macam petis, terasi and the geng. Tinggal ke seberang jalan, ada Sentra Ikan Bulak (SIB). Tapi kabar-kabarnya, bangunan yang ditujukan untuk relokasi pedagang kaki lima ini sudah bertahun-tahun sepi pengunjung. Masih banyak pedagang yang berjajar di pinggir jalan. Entah karena ini maka SIB jadi sepi, atau karena SIB sepi jadi mereka balik lagi ke jalanan? Entahlah. Butuh investigasi lanjutan untuk mengetahui jawabannya.


TAMAN SUROBOYO: Rekomendasi Tempat Wisata Keluarga di Surabaya


BIAYA KEGIATAN DI TAMAN SUROBOYO

Masuk taman gratis.
Parkir sepeda motor Rp3.000
Parkir mobil Rp5000
Naik perahu mulai dari Rp10.000
Mobil / skuter mini Rp10.000 per anak, atau Rp15000 per dua anak dalam satu mobil.
Berbagai makanan, snack dan minuman mulai Rp1000

YANG PERLU DIPERHATIKAN SAAT KE TAMAN SUROBOYO

Karena Taman Suroboyo ini lokasinya pas di sebelah pantai, jadi ya anggap saja seperti pergi ke pantai. Seperti daerah pantai pada umumnya, suhunya pasti lebih panas. Jadi, sunblock SPF tinggi wajib hukumnya kalau Mamah tidak mau berakhir dengan kulit gosong yes.

Jangan lupa bawa kacamata hitam juga, atau pake topi sekalian juga gak papa deh. Dari ekspresi kami di foto ini kelihatan sudah jelas ya bagaimana silaunya pantulan cahaya matahari di air laut. Serius silau banget! Ini demi keamanan mata Mamah juga biar gak kena radiasi sinar UV.


KESIMPULAN

Taman Suroboyo ini beneran salah satu taman di Surabaya dengan fasilitas yang istimewa. Kita jalan-jalan di taman tapi berasa kayak di pantai. Serius. Angin lautnya healing banget. Menyegarkan. Seakan semua penat dan stres dihempaskan oleh hembusannya, haha.. Apalagi pas cuacanya mendung-mendung manjah. Ah, udah. Berasa kayak pingin gelar kasur aja deh disana.

Tapi sayangnya karena lokasi Taman Suroboyo di Kenjeran yang jauh dari rumah, mungkin saya tidak akan bisa sering datang kesana. Yang jelas, saya masih ingin kesana lagi. Masih banyak spot yang belum sempat kami jelajahi waktu itu karena mendung gelap keburu datang. Berhubung ada empat anak kecil, kami buru-buru pulang sebelum hujan.

Yang udah pernah main ke Taman Suroboyo, apa nih yang saya lewatkan dari kunjungan saya kesana? Dengar-dengar kita bisa jalan-jalan ke kampung nelayan yang rumah-rumahnya didekorasi warna-warni gitu ya? Bener gak sih?

Kalo yang lain gimana?
Mau coba main ke Taman Suroboyo weekend ini bareng anak-anak?

Rabu, 14 November 2018

LAKUKAN INI SEKARANG UNTUK MENCEGAH KECANDUAN GADGET PADA ANAK

cara mengatasi dan mencegah anak kecanduan gadget

SETAN KOTAK itu bernama GADGETS
Kayaknya emang bener gak sih, Mah? Elektronik berbentuk kotak itu sedikit banyak sudah membawa dampak jelek layaknya setan:
Anak-anak jadi kecanduan games. Mereka makin gampang terpapar konten mengerikan, macam video-video alay, pornografi, kekerasan.
Sementara kita orangtuanya juga ikut tersedot dalam posts di timeline dan stories FB dan IG yang tanpa akhir. Ah, belum lagi video di YouTube. Ah, belum lagi obrolan di grup WhatsApp. Gadgets tak pernah lepas dari genggaman.
Sehingga makin sedikit waktu untuk dinikmati bersama keluarga, bahkan untuk sekedar ngobrol santai.
Anak-anak jaman now adalah generasi digital native. Kata orang, "masih bayi udah bisa pegang HP". Ya itu karena mereka memang terlahir di jaman teknologi digital sudah berkembang pesat. Jadi tidak mungkin kita sepenuhnya menghindarkan mereka dari paparan teknologi. Yang bisa dilakukan adalah mencegah anak-anak kecanduan gadgets.
Lagipula, di sisi lain, gadgets punya dampak positif untuk anak-anak: mereka bisa akses materi untuk self-study (belajar mandiri) lewat aplikasi atau video; mereka bisa bersosialisasi dengan teman atau keluarga lewat telepon atau video call. Bahkan banyak murid saya dulu yang mengaku mendapat banyak kosakata Bahasa Inggris dari games yang mereka mainkan. Tapi ... 
Too much of anything is bad - Mark Twain
Itulah kenapa waktu yang anak-anak habiskan di depan layar (screen time) harus dikontrol agar mereka tidak kecanduan gadgets.

Kuncinya hanya satu: KONSISTEN
konsisten artinya: tetap (tidak berubah-ubah), taat asas, ajek

Orangtua yang tidak konsisten akan membuat anak bingung mana perilaku yang seharusnya mereka lakukan, sehingga akhirnya mereka stres karena orangtuanya plin-plan.
House rules / Family rules (peraturan di rumah / dalam keluarga) hukumnya wajib ada ya, Mah. Anak-anak harus dibiasakan hidup dalam tata tertib dimana pun, dimulai dari rumah, termasuk dalam hal menggunakan gadgets.

 "Bu, main tab.."
 "Loh, tadi kan adek sudah main"
 "Ah, enggak! Mau main tab lagiii!"

 "Mah, hape. Liat Youtube"
 "Wah, hape Mamah mati, dek. Maaf ya" (sengaja bohong supaya anak gak YouTube-an terus)
(5 menit kemudian, terlihat  bawa HP Papahnya)

 "Kak, TV-nya matikan ya. Kakak udah lihat TV lama dari tadi"
 "Iya, sebentar"
(30 menit kemudian,  masih di depan TV)

Kalau selama ini adegan-adegan di atas masih terjadi, hayuuk sekarang kita bikin aturan main gadgets bareng-bareng, Mah.

Nah, ini panduan membuat aturan pakai gadgets untuk anak:

1. Diskusikan dulu dengan pasangan

Sebelum membuat kesepakatan dengan anak, Mamah pastikan dulu bahwa peraturan yang akan Mamah terapkan sudah mendapat ACC dari Si Papah. Jadi Papah-Mamah harus satu suara ya kalau mau benar-benar menerapkan disiplin pada anak. Ini juga bagian dari konsistensi. Kalau tidak, anak bisa bingung dengan aturan mana yang harus diikuti dan malah akan banyak memberontak.

2. Ajak anak berdiskusi juga

Dengan mengikutsertakan anak dalam membuat keputusan, mereka akan lebih merasa dihargai dan percaya diri. Yang lebih penting, mereka akan lebih mandiri dalam memecahkan masalah, karena mereka tidak melulu menerima perintah orangtua. Dengan berdiskusi, mereka berlatih mengembangkan kreativitas dalam mencari solusi.
Untuk anak-anak yang lebih muda, tetap ajak mereka bicara. Mereka mengerti kok. Misalnya, "Wah, makannya sudah habis. Lihat videonya sudah ya, dek" 

3. Buat aturan tertulis

aturan pakai gadget untuk mencegah anak kecanduan gadget

Melihat fakta yang ditunjukkan diagram lingkaran pada infografik di atas, sudah jelas ya bahwa visual penting peranannya dalam proses belajar / memperoleh informasi.
Yang ku lakukan:
Aturan pakai gadgets yang sudah disepakati bersama ku jadikan poster. Poster ini aku tempel di sebelah TV supaya terus terlihat Si Kakak (anak pertamaku, 8 tahun) dan ku juga gampang mengingatkan. Misalnya, dia mulai nyaman tiduran di sofa lihat YouTube. Anak akan lebih banyak ingat sesuatu yang mereka dengar dan lihat secara bersamaan kan, jadi ku suruh dia lihat posternya sambil ku ingatkan, "Kakak, duduk. Ingat?" Lama kelamaan, terkadang malah ku tak usah pake ngomong, tinggal tunjuk poster 

Notes: Baca terus sampai habis ya, Mah. Nanti saya kasih posternya gratis tinggal unduh 

4. 5W + 2H

Dalam aturan pakai gadgets, Mamah harus sertakan poin-poin berikut:

What - Tentukan jenis gadgets apa yang boleh dipakai dan untuk apa.
Misalnya, hanya boleh pinjam HP Mamah untuk untuk main game, tidak untuk YouTube-an (karena sesungguhnya Mamah #miskinkuota #eeaa)

Where -  Tentukan dimana saja gadgets boleh/tidak boleh digunakan.
Misalnya, tidak boleh ada gadgets di kamar tidur untuk menghindari bahaya paparan radiasi.

When - Tentukan kapan saja gadgets boleh/tidak boleh digunakan.
Misalnya, tidak boleh asik sendiri dengan hapenya saat ada acara keluarga, atau tidak boleh nonton TV saat makan.

Who - Tentukan untuk siapa saja aturan ini berlaku.
Untuk mengatasi kecanduan gadgets pada anak, keluarga harus menciptakan lingkungan yang mendukung. Jika ingin membatasi waktu anak di depan layar, semua anggota keluarga baiknya juga bersama-sama ikut "diet gadgets". Anak belajar paling banyak dengan melihat. Maka jadilah teladan dengan berperilaku seperti yang Mamah ingin anak lakukan. Mamah ingin anaknya gak main game terus seharian? Mamah juga harus bisa berhenti swipe up, swipe left di Instagram terus (paling tidak, saat di depan anak. Pas anak lagi gak ada, lanjut stalking gapapa kali ya? hihi..)

Why - Anak perlu dan berhak tahu mengapa mereka tidak boleh berlama-lama pakai gadgets. Berikan penjelasan sesuai tingkat pemahaman anak. 
Misalnya, pada Si Kakak saya minta dia googling "akibat terlalu lama main gadgets". Hasilnya ada banyak artikel, video, bahkan gambar-gambar ngeri anak-anak korban radiasi HP. Dari situ saya pastikan dia tahu bahwa kami membuat aturan pakai gadgets ini karena kami benar-benar tidak ingin hal-hal buruk itu terjadi padanya. 

How - Tentukan bagaimana cara pakai gadgets yang diperbolehkan dan mana yang tidak.
Misalnya, tidak sambil tiduran, sound harus off saat main game.

How Long - Tentukan berapa lama maksimal pemakaian gadgets. Ada banyak pedoman yang bisa Mamah ikuti. Pastikan sumbernya credible ya.
Sebagai contoh, saya memakai rekomendasi Parentalk pada artikel yang bersumber dari "Buku Anti Panik Mengasuh Bayi 0 - 3 Tahun". Disebutkan bahwa anak seusia Si Kakak diperbolehkan menghadap layar maksimal 2 jam sehari.

5. Imbalan & Konsekuensi

Dalam menerapkan disiplin pada anak, sistem rewards (pemberian imbalan) dikenal lebih efektif dibandingkan punishment (pemberian hukuman). Salah satu cara mudah membatasi waktu anak menggunakan gadgets adalah dengan menjadikannya sesuatu yang harus "didapatkan" dengan usaha, jadi anak tidak begitu saja bebas nonton TV kapan pun dia mau.
Yang ku lakukan beberapa tahun lalu:
Setiap kali Si Kakak (3 - 4 tahun pada waktu itu) mau pinjam HP, dia harus muraja'ah (setor hafalan Qur'an). Imbalannya, biasanya 30 menit screen time.
Terserah Mamah mau anak-anak lakukan apa untuk bisa mendapat akses main gadgets: bereskan mainan, habiskan makan sayur, kerjakan soal persiapan ujian, ... apa saja.

PERHATIAN: Tetap perhatikan batas pemakaian yang disarankan sesuai usia anak.  

Anak juga harus mendapat konsekuensi kalau tidak sesuai aturan. Usahakan natural dan tidak dibuat-buat. Misalnya, karena dalam sehari maksimal pakai gadgets 2 jam, kalau Si Kakak terlalu lama nonton TV, jatah waktu main game-nya jadi makin sebentar.

Disini ku sertakan poster yang sudah ku buat dan sepakati bersama-sama. Nah, jatah waktu maksimal 2 jam ini ku bagi menjadi 30 menit (atau kelipatannya) sekali kesempatan. Artinya, Si Kakak pakai gadgets maksimal 4x dalam sehari.

Misalnya, 
30 menit nonton TV habis bangun tidur (maksudnya, biar dia lebih gampang melek, haha.. Siapa yang begini juga caranya biar anak bisa bangun pagi? )
60 menit main games bareng temen-temennya.
30 menit untuk googling sesuatu yang dia penasaran pengen tahu, tapi tidak bisa temukan di buku.

Di poster aturan pakai gadgets Si Kakak, ku gambar 4 kotak, dimana 1 kotak = 30 menit. Jadi, misalnya tadi pagi dia sudah nonton TV 30 menit, 1 kotak dicentang. Kalau semua kotak sudah dicentang artinya jatah screen time dia hari itu sudah habis. 
"Sori. Harus sabar tunggu sampai besok ya, Kak"

Barangkali Mamah mau buat aturan pakai gadgets yang sama, mungkin karena kita punya anak yang seumuran jadi jatah screen time-nya sama, Mamah bisa pakai template poster yang ku sediakan ini. Sengaja ku kosongkan bagian nama anak dan aturan do's and don'ts-nya supaya bisa disesuaikan dengan kebutuhan keluarga Mamah.
Tinggal isi nama dan e-mail, nanti langsung dikirim ke inbox Mamah. Free!

Selamat menikmati waktu berkualitas bersama anak.
Tanpa gadgets tentunya

Minggu, 07 Oktober 2018

Di Balik Perubahan Penampilan Seorang Ibu

Penampilan Berubah Setelah Jadi Ibu

Jangan ditanya fashion style saat getting dressed as a Mom with a toddler be like…
Penampilan Berubah Setelah Jadi Ibu
Anak gelandotan terus di kaki Mamah. Kapan bisa dandan nih?

Gak ada kancing yang kelupaan dikancingin aja udah bagus.
Maunya mix and match outfits, tapi di lemari cuman sisa beberapa potong, lainnya masih kusut belum disetrika; sekusut rambut Mamah yang belum sempat keramas karena anak selalu nangis histeris saat Mamah masuk kamar mandi.
What a #Modyarhood life.


STYLE BEFORE & AFTER MOTHERHOOD

Awalnya kupikir dari dulu ya ku begini-gini saja; gak pernah fashionable. Tapi setelah ku bongkar kembali kenangan jaman old, tak disangka ternyata ku masuk #TeamBerubah !

Before Motherhood, ku belum kenal pashmina seperti sekarang, jadi cuman pake either kerudung paris segi 4 atau jilbab instan tak bermodel.
Berubah Penampilan Setelah Jadi Ibu

Selain model, dulu ku juga cuma kenal jilbab warna dasar: hitam, putih, navy. After Motherhood, ku sudah berani pakai bermacam warna & motif.
Penampilan Berubah Setelah Jadi Ibu

Dulu ku sering cari aman dengan basic T-shirt & jeans. Setelah jadi Mamah, ku sudah berani mix & match

Penampilan Berubah Setelah Jadi Ibu

Kemungkinan besar ini karena setelah menikah dan punya anak, ...

  1. Tersedia sponsor, yaitu Si Papah, yang siap sedia mendanai pembelian beberapa potong outfit baru.
  2. Ku masuk ke dunia kerja yang menuntut untuk berpenampilan rapi dan profesional. Ku juga mulai belajar pake (very basic) makeup.

CHANGES IN STYLE

Eh, tapi setelah ku berkaca, penampilanku sekarang kok kembali lagi seperti jaman gadis dulu
Penampilan Berubah Setelah Jadi Ibu
Wajahku kembali bareless; pake bedak aja gak sempet, sis, apalagi gambar alis & mata kucing 

Ternyata style-ku berubah tidak hanya sebelum dan sesudah menjadi Mamah, tapi juga during VS. after toddler. Foto-foto after diatas diambil saat Si Kakak berusia 3 tahun ke atas. Sementara saya sekarang masih berkutat dengan Baby Sha yang 2018 ini masih di bawah 2 tahun.
Penampilan saya, atau mungkin juga para Mamah lain, bisa beda antara during VS. after toddler kemungkinan karena ...


During Toddler
After Toddler
Anak masih sangat ketergantungan pada Mamah. Gak kelihatan sebentar aja anak udah panik, padahal Mamah cuma pengen mandi & ganti baju.
Anak lebih mandiri secara emosional sehingga sudah merasa aman walau tanpa Mamah. Mamah jadi punya waktu sebentar untuk bebas dandan & pilah pilih baju.
2 - 3 tahun pertama adalah masa menyusui. Jadi pilihan baju Mamah terbatas pada kategori busui-friendly, kemeja, dan baju dengan resleting/kancing depan.
Karena sudah lulus mengASIhi, Mamah bisa bebas pilih baju model apa aja. Hello again, T-Shirt!
Fase oral anak baru akan berakhir sekitar usia 18 bulan. Mamah tidak ingin mengambil resiko manik-manik kalung Mamah tiba-tiba ada di dalam mulutnya. Jadi, bye, accessories.
"Aksesoris, aku hanya pergi tuk sementara". Dengan berakhirnya keinginan anak untuk memasukkan apapun ke mulutnya, Mamah bisa lebih bebas memakai aksesoris.
… (tambahkan sendiri berdasarkan pengalaman)

Setelah berkali-kali berubah dalam kurun waktu kurang lebih 1 dekade, ku sadar akan beberapa hal:

  • Penampilan Mamah adalah kebanggaan anak

Ku ingat dia pernah bilang:
“Mamah kok bajunya aneh gitu sih?”
saat saya cuek saja jemput sekolah Si Kakak pake atasan, bawahan & jilbab gak ada yang matching,
dan ...
“Mamah pake bedak sama lipstik ini loh, Mah, biar keliatan cantik kayak Mamahnya teman-temanku”
(yah maklum.. sebagian besar memang antar jemput anak dengan make-up paripurna)

Ah.. Malu rasanya sudah membuat Si Kakak merasa malu di depan teman-temannya.
Sadar atau tidak, Mamah adalah satu dari sedikit hal berharga yang anak-anak miliki, dan pastinya mereka ingin membanggakan apa yang mereka punya. Jadi, saya harus terus berusaha menjadi Mamah yang bisa dibanggakan oleh anak, termasuk  dengan berdandan rapi dan terlihat enak dipandang lingkungan sekitar  Inilah motivasi saya untuk melawan malas

  • Judging the book by its cover

Muka pucat tanpa rona lipstik. Kantong mata tidak tersamarkan BB Cream. Jilbab miring. Pakaian kusut.
Secara mengejutkan, penampilanku yang 'apa adanya' seperti ini mengundang komentar miring dari banyak orang. Secara tersirat, ku mendapat kesan bahwa mereka mengira ku tidak bahagia setelah berhenti mengajar dan jadi ibu rumah tangga.
Padahal sebenarnya, 
Ya gimana jilbab gak miring & baju gak kusut, secara Baby Sha masih sering minta gendong.
Ya gimana mau pake lipstik & BB Cream kalau Baby Sha keburu nangis pengen jalan-jalan di luar.
Bukannya saya tidak bahagia.
Ternyata tidak sedikit orang yang masih judging the book by its cover. Maybe that's why appearance (also) matters.

  • Mempercantik diri bukan prioritasku saat ini

Tidak dapat disangkal ya: Setelah melahirkan, prioritas Mamah berubah. Mamah pun berubah. Dalam fase hidup yang berbeda, masalah yang dihadapi pun berbeda. Dunia yang diramaikan dengan gelak tawa anak-anak adalah dunia yang jauh berbeda dari kehidupan saat single dulu. Sebagai orangtua, ku sudah tidak bisa lagi memikirkan diri sendiri.
Jika ku punya 15 menit sebelum jalan-jalan ke mall, misalnya, tentu ku akan mendahulukan
dandanin anak-anak atau packing 'perbekalan' anak-anak, macam minum & cemilan. Ya daripada alis sudah tergambar rapi, tapi lupa bawa popok & baju ganti. Yah, maklum saya juga #TimGakPakeART
Fashionable sudah bukan lagi syarat utama dalam pemilihan baju, tapi juga ...
  • NYAMAN, karena banyak kegiatan fisik yang Mamah lakukan. Ngejar anak yang sibuk explore kesana kemari, misalnya.
Penampilan Berubah Setelah Jadi Ibu
Andalan: KEMEJA! Nyaman  Busui-friendly  Simpel 

  • SIMPEL & PRAKTIS, karena kemungkinan besar akan ada momen anak tiba-tiba bilang “Mah.. Pengen pup!” tidak peduli sudah se-yahud apa penampilan Mamah saat itu. Bayangkan cebokin anak dan Mamah pake dress yang lebar bawahnya 2 meteran, atau baju model bell sleeves. Biasanya saya terpaksa lepas semua baju dan berganti ke daster andalan. Bayangkan kalau outfitnya ada beberapa lapis dan jilbab di model macam-macam. Pakai - lepas - ulang lagi dari awal.
  • RAPI & BERSIH, agar tidak terlihat lusuh & kumal. Duh! 

Tapi yang jauh lebih penting lagi, ...

  • Wear whatever makes you happy

Ibu yang bahagia = keluarga bahagia
Karena Mamah adalah pusat emosi keluarga, maka seberapa senang hati Mamah berpengaruh pada kebahagiaan & kesuksesan anak-anak.
Bahagia itu relatif ya.. Ada yang senang hatinya kalo terlihat stylish dengan make-up flawless. Ada yang sudah senang asalkan anak senang, tak perduli bagaimana rupa Mamah. Ya sebahagianya Mamah aja kayak gimana 
Satu hal lagi yang bikin ku happy dan enjoy menjalani kelusuhan seorang Mamah ini:
These days shall pass!
Seperti yang sudah kujabarkan di atas, ku sudah mengalaminya jaman Si Kakak dulu. Believe me. Setelah anak usia 3 tahun, Mamah bisa lebih bebas dandan dan dress up.
Berbahagialah! 


Jadi, penampilan seperti apa yang jadi andalan Mamah? 

Kamis, 03 Mei 2018

Ajari Anak Mengenal Angka Sampai Belajar Pengurangan dengan Permainan Ini

Ajari Anak Mengenal Angka Sampai Belajar Pengurangan dengan Permainan Bingo

Main apa hari ini sama anak-anak, Mah?

Udah pernah main BINGO belum sama si Kakak? Kalau belum, 

ayo ajak anak main BINGO, Mah!

Main BINGO sangat cocok untuk mengajarkan ANGKA pada anak. Karena dengan main BINGO, anak bisa mengenali, menyebutkan, dan menulis angka-angka yang sedang dia pelajari.

Main BINGO tidak melulu harus menggunakan grid 5x5 seperti yang kita tahu. Ada banyak variasi permainan BINGO yang bisa disesuaikan dengan tahap belajarnya anak.

Kok bisa?
Ya bisa dong.
Cusss.. Cek gimana caranya main BINGO sambil anak bisa belajar matematika.

Untuk anak yang sudah tahu angka, tapi belum bisa menulis ...

pakai KARTU BILANGAN saja. Kalau ogah bikin sendiri, langsung download gratis aja disini. Lalu tinggal print dan gunting. Jaaadi. Langsung bisa dipakai untuk bermain.
Misalnya, si Adek sudah mengenal angka 1 - 10,
(1) Print Kartu Bilangan 1 - 10 sebanyak dua kali. Satu set untuk Mamah; yang lainnya untuk si Adek.
(2) Minta si Adek untuk mengambil 5 kartu bilangan secara acak. Juga bilang padanya, "Sssttt... simpan baik-baik kartunya. Jangan sampe ketahuan Mamah. Mamah gak boleh lihat kartu Adek."
      Kenapa? Karena ...
(3) Mamah harus tebak angka berapa saja yang ada di kartu-kartu yang dia ambil.
(3) Kalau tebakan Mamah benar, si Adek harus keluarkan kartunya.
(4) Lakukan secara bergantian setelah masing-masing menebak satu angka.
      Jadi, semacam begini:
      Mamah: Ada 7 gak, Dek?
      Si Adek: *lihat kartunya satu persatu*
                     Gak ada. Sekarang aku ya.. 1?
      Mamah: Yeee.. Tebakan Adek bener.
                    *keluarkan Kartu Bilangan 1*
                    *lalu giliran Mamah menebak lagi
(5) ... Lalu lihat siapa duluan yang bisa menebak semua angka pada kartu. Jangan lupa bilang "BINGO!" Hehehe..

Untuk anak yang sudah tahu angka, dan sudah bisa menulis ...

(1) Minta si Adek untuk menggambar 5 kotak yang agak besar menggunakan spidol atau pulpen atau krayon. Jangan pensil.
(2) Minta si Adek tuliskan 1 angka pada masing-masing kotak dengan pensil.
      Kalau si Adek masih belajar menulis, Mamah bisa siapkan contoh angkanya. Print saja KARTU BILANGAN sebanyak angka yang sudah Adek tahu, lalu bariskan sebagai rujukan Adek menulis. Jadi waktu si Adek bingung, "Mah, 5 kayak gimana, Mah?" Mamah tinggal tunjuk kartunya.
(3) Mamah juga tuliskan 5 angka secara acak.
(4) Seperti versi sebelumnya, si Adek dan Mamah bergantian menebak masing-masing 1 angka.
(5) Jika tebakan si Adek benar, maka Mamah harus mencoret, atau memberi tanda silang  pada angka yang barusan disebutkan. Begitu juga sebaliknya.
(6) Jika semua angka Mamah sudah dicoret, atau ditebak, berarti si Adek menang.

via GIPHY

(7) Karena kotak-kotaknya digambar dengan tinta, dan angka-angkanya ditulis dengan pensil, saat mau bermain lagi, si Adek tinggal hapus saja angka-angka sebelumnya dan tuliskan angka-angka yang baru. Tidak perlu gambar kotak lagi.

Untuk anak yang sudah tahu hingga angka puluhan,

baru bisa main BINGO seperti yang biasa kita tahu: (normalnya) dengan grid 5x5. Untuk memudahkan anak-anak bermain, kita pake versi simpelnya aja ya, Mah. Gini...

  1. Setiap pemain menggambar grid 5x5: 5 kotak mendatar sebanyak 5 baris.
  2. Tuliskan secara acak satu angka pada setiap kotak. Bergantung pada kemampuan anak, range angkanya bisa disesuaikan, namun harus tetap sebanyak 25 angka. Misal, dari 51 - 75, atau dari 101 - 125; bebas. Untuk Kak Faza, saya pakai range 1 - 25.
  3. Secara bergantian, sebutkan satu angka secara acak dan masing-masing beri tanda silang pada/coret angka tersebut.
  4. Tujuannya supaya pemain bisa mencoret/memberi tanda silang semua angka dalam satu baris/kolom/diagonal. Jika sudah, maka pemain harus katakan "BINGO!" dan menuliskan satu huruf secara berurutan untuk membentuk kata B.I.N.G.O.
  5. Lanjutkan bermain sampai salah satu pemain MENANG karena sudah mencoret/memberi tanda silang semua angka dalam lima baris/kolom/diagonal dan menuliskan lengkap huruf B.I.N.G.O

Untuk anak yang sedang belajar penambahan/pengurangan:

Di Tema 5 yang lalu sudah belajar mulai pengenalan jumlah 1 - 40, perbandingan, penambahan, lalu sekarang di Tema 6 belajar "Pengurangan".
Sebenarnya Kartu Bilangan / Number Cards masih bisa dipakai untuk belajar pengurangan, tapi saya pingin ganti aktivitas yang lain ah.. Jaga-jaga biar kak Faza gak bosen.
Oke. Jadi untuk materi pengurangan ini, saya bikin pake permainan BINGO.
Begini cara mainnya:
(1) Alih-alih menuliskan angka, saya tuliskan satu soal pengurangan pada setiap kotak.
(2) Bergantung pada kemampuan anak, soal-soal tersebut bisa dikerjakan sebelum permainan dimulai, atau dikerjakan pada saat bermain. Kak Faza lebih memilih untuk langsung bermain agar ridak terlalu terkesan seperti sedang mengerjakan latihan soal, hehe..
(3) Saat anak akan menyebutkan angka yang diinginkan, otomatis dia harus menyelesaikan soal pengurangannya dulu  Minta anak untuk membacakan soal dan jawabannya agar Mamah bisa cek benar tidaknya dan agar Mamah bisa dengan mudah menemukan angka yang dimaksud. Jangan lupa berikan tanda silang/coret setiap angka yang disebutkan.
(4) Lanjutkan bermain seperti instruksi sebelumnya 


BONUS untuk Para Mamah yang Budiman:
free printable BINGO untuk Belajar Pengurangan


Biar Mamah bisa langsung ajak anak belajar Matematika sambil bermain, silahkan langsung download gratis grid BINGO yang sudah saya buat. Ada dua macam soal yang saya gunakan: pengurangan dengan satu angka, dan pengurangan dengan dua angka.

Jangan lupa share ke Para Mamah lainnya yang bingung caranya bikin anak bisa belajar Matematika selain dengan mengerjakan latihan soal berlembar-lembar.
Share juga ke Para Mamah Guru yang lagi butuh ide permainan untuk murid-murid di kelas. Bisa langsung share ke Facebook, Twitter, atau Pinterest. Tinggal klik saja.

Kalau Mamah sudah sudah coba main BINGO sama anak-anak atau sudah download free printable-nya juga, Mamah bisa share pengalaman mainnya lewat komentar di bawah atau lewat Facebook page Main Apa Hari Ini. Review yang Mamah berikan bisa menjadi masukan yang bermanfaat untuk saya dan Para Mamah Pintar lainnya.

Ternyata belajar Matematika bisa sambil bermain juga kan?!
Ayo langsung dicoba, Mah! Mudah-mudahan anak-anak bisa menikmati belajar Matematika ya..

Selamat menikmati waktu berkualitas bersama anak, Mah..

Minggu, 01 April 2018

Inilah Arti Sebenarnya Menjadi Supermom

Selama ini mungkin kebanyakan dari kita sungguh berharap bisa jadi Super Mom yang bisa mengerjakan semuanya. Macam Superhero gitu kan. Apa-apa bisa.
Semua urusan rumah, suami, anak-anak. Beres..
Karir di kantor berjalan cemerlang. Lantai rumah juga tidak kalah bersih cemerlangnya. Pun prestasi anak-anak di sekolah.
"W.O.W. Hebat banget kan kalo kita bisa jadi Super Mom?!" Itu mungkin pikir kita.
Tapi,
selama ini mungkin kebanyakan dari kita salah mengartikan "Super Mom".
Kok bisa?
Coba kita ambil satu contoh superhero. Ambil yang populer aja lah yah, biar semuanya ngerti: Superman.
Kurang apa coba si Superman ini:
aduh..duh.. aduhai gantengnya.
cerdas. kan secara dia jurnalis.
badan fit, otot kawat, balung wesi.
kuat. berhentiin pesawat terbang mau jatuh ya bagi dia sama kayak angkat galon air, kalik.
terbang, bisa..
laser eyes, bisa..
asalnya dari keluarga terpandang, ya gak tuh. Jor-El kan ilmuwan terkemuka di Planet Kripton sono.
Tapi sekarang coba..
Superman suruh baca pikiran kayak Professor X, bisa gak?
Superman suruh desain persenjataan canggih macam Tony 'Iron Man' Stark, bisa gak?
Superman suruh keluarin jaring terus gelantongan sana-sini kayak Spiderman, bisa gak?
Enggak kan?!
Being a superhero, or in this case, being a supermom doesn't mean that we have to be able to do everything.
NO!
Being a supermom means we have to be a hero using our superpower.
YES!
Setiap superhero pasti punya superpower sendiri2 kan:
Wolverine = cakar adamantium nya
Captain America = tameng nya
Batman = duit nya
dan mereka gunakan superpower itu untuk membela kebenaran, membasmi kejahatan.
SAMA!
Arti menjadi Supermom sebenarnya adalah: kita Para Mamah gunakan keahlian yang kita punya untuk misi mensejahterakan keluarga. Dan tiap Mamah pastinya punya superpower sendiri.
Nah, dengan tahu arti menjadi Supermom sebenarnya, sekarang kita cari, yuk, superpower kita apa. Lalu jadilah Supermom dengan superpower itu.
Misalnya nih..
Mamah Jen.
Superpower: Masak
Misi: Menyediakan tiga masakan yang berbeda untuk tiga kali makan dalam sehari guna memenuhi kebutuhan nutrisi keluarga. Higienis. Sehat. Hemat.
Mamah Elyza.
Superpower: DIY perabotan rumah.
Misi: Terus merakit sendiri perabotan rumah & dekorasinya guna terwujudnya Beautiful Home Sweet Home tanpa menguras kantong.
Mamah Fitri.
Superpower: teaching skill
Misi: Memberikan anak kegiatan edukatif di rumah untuk tujuan pendidikan dunia akhirat.
Nah, Mamah apa?
Gak perlu minder karena gak bisa jadi seperti yang lain. Setiap diri Mamah pasti punya potensi yang bisa digali dan dimanfaatkan.
Untuk mengenali (potensi) diri, Mamah  bisa melakukan refleksi diri. Mamah bisa tulis di jurnal apa yang Mamah rasa paling bisa Mamah lakukan, yang Mamah rasa paling bahagia & enjoy saat melakukannya. Atau kalo memang perlu bantuan, pendapat dari keluarga, teman, tetangga mungkin bisa jadi sangat membantu. Tanyakan satu hal yang selalu mereka identikkan dengan Mamah. Misalnya saya nih: dari teman SD sampai kuliah, hampir semua selalu mengidentikkan saya dengan "Jago Bahasa Inggris" Yah, oke.. Jadi nilai itu yang diberikan oleh orang-orang sekitar saya dan lalu melekat pada diri saya.
Datang ke pakar psikologi juga bisa jadi acuan, karena mereka sudah ahli dalam mendeteksi yang macam gini.
Bagaimanapun juga,
apapun superpower Mamah,
mungkin banyak Mamah yang lupa kebenaran hqq ini, termasuk saya:
Anak-anak sebenernya gak butuh orangtua yang sempurna, yang jago mengerjakan segala macam.
Hqq nya anak hanya butuh orangtua yang mencintai mereka sepenuhnya, yang mencintai mereka apa adanya.
Karena cinta anak-anak pada orangtua tidak pernah bersyarat.
Ya kan, Mah?
Mau Mamah gak langsing, belum mandi, suka ngomel, anak-anak tetap cinta.
Bahkan mungkin setelah anak-anak dihukum, lalu dibiarkan nangis dramatis sebentar, lalu setelah dirasa amarah mereka sudah mereda, lalu kita peluk, mereka gak nolak kan?! Malah makin kenceng meluknya sambil nangis sesenggukan di dada kita.
Itulah, kita memang selalu inginkan yang terbaik buat anak-anak. Tapi kita juga harus selalu ingat bahwa cinta mereka pada kita tak bersyarat, Mah.
Gak perlu jadi Supermom yang harus bisa beres urusan karir, masak, beberes rumah, DIY, keuangan, dandan make-up membahana, fashion keluaran terbaru, aktif jadi panitia kegiatan ini-itu...
Supermom yang macam begini ini mungkin bagaikan unicorn. Makhluk fiktif. Tidak nyata.
Jadilah Supermom yang terbaik buat keluarga dengan superpower Mamah sendiri.
Jadi,
Selamat menjalankan misi keluarga, Supermoms!

Kamis, 08 Maret 2018

BIKIN DIY MUDAH DARI KALENDER BEKAS BERSAMA ANAK

Hai, Mah.. Main apa hari ini sama anak-anak?
Seperti yang sudah dibahas disini, mengingat manfaatnya untuk menyiapkan mental anak dalam persaingan dunia, agendakan bermain kompetitif bersama anak yah dalam minggu ini.

Nah, untuk mendukung permainan kompetitif anak, kali ini Alhamdulillah saya bisa menepati janji untuk berbagi tutorial DIY mudah yang bisa digunakan untuk berbagai macam permainan anak.

Meskipun ini DIY / do-it-yourself / bikin sendiri, tapi caranya gampang: tinggal gunting dan tempel, sehingga ini bisa jadi kegiatan DIY seru bersama anak. Bahan-bahannya juga gratis. Inshallah di setiap rumah sudah tersedia, apalagi akhir tahun begini. Bisa jadi pilihan cara pemanfaatan kalender bekas yang menumpuk setiap akhir tahun.

Iya.. Bahan utamanya ini. Kalender meja.
tutorial membuat diy mudah bersama anak dengan memanfaatkan kalender bekas

Kalender ini, Mah, kalo di rumah saya selalu numpuk gak karuan, karena saya selalu dapat dari sekolah. Ditambah lagi selalu ada orangtua murid yang ngasih. Lalu ada lagi dari kantornya si Papah. Masih nambah lagi kalau ada perusahaan customer yang ngasih. Alhamdulillah jadi ndak pernah kepikiran beli kalender tiap tahun. Tapi di sisi lain juga sampek bingung mau ditaruh dimana lagi para kalender ini. Nasibnya kadang sampai tidak terpakai. Kalau Mamah punya masalah yang sama, maka DIY ini bisa jadi solusi pemanfaatan kalender bekas.

Dengan tutorial DIY yang mudah, kalender-kalender bekas ini bisa berubah fungsi menjadi

Papan Skor / Score Board.

Papan skor ini bisa dipakai untuk segala macam permainan. Mulai dari olahraga kompetitif, seperti sepak bola, bulu tangkis, tenis, basket, lari; atau kegiatan edukatif yang dimainkan seperti kuis, seperti Permainan Cerdas Cermat, Tebak Gambar atau Number Cards. Apa saja!

Oke, mari kita mulai tutorialnya. Karena DIY ini sangat mudah, ajak anak untuk ikut membantu sesuai dengan kemampuan mereka. Malahan, anak kelas satu seusia Kak Faza bisa melakukan semuanya sendiri. Mamahnya tinggal membantu dan mengarahkan.

Bahan-bahannya:

Kalender meja bekas
Kalender dinding bekas, atau kertas putih polos biasa.
Lem / double tape
Gunting
Penggaris
Alat tulis apapun. Bisa pensil, pulpen, krayon, pensil warna, spidol, brush pen, apapun.

tutorial membuat diy mudah bersama anak dengan memanfaatkan kalender bekas

Caranya, cukup dengan:

1. Gunting kalender dinding / kertas polos seukuran kalender meja.

2. Tempelkan ke tiap lembar kalender meja dengan lem / double tape.
Memang agak tricky saat membiarkan anak mengaplikasikan lem cair. Kemungkinan menjadi berantakan akan lebih besar. Tapi menggunakan lem relatif lebih hemat. Lebih baik gunakan stick glue.
Dengan double tape, hasilnya akan lebih rapi, meskipun pemakaiannya agak boros.

3. Kalau kalender meja Mamah agak lebar seperti punya saya, bagi 1 lembar menjadi dua. Caranya, tarik garis tengahnya dengan penggaris, lalu gunting.

4. Tuliskan nomer berurutan dari mulai lembar kedua hingga lembar terakhir, di kedua sisi. Untuk lembar pertamanya bisa dibikin jadi semacam cover.
Tuliskan mulai dari nomer 0, karena skor selalu dimulai dari 0 - 0 kan. Sayangnya saya lupa! Jadi lembar cover menjadi penggantinya.
Tuliskan nomernya dalam ukuran besar, sehingga lebih mudah dilihat.
Gunakan warna yang berbeda untuk setiap sisi. Pada contoh disini ada Tim Cokelat dan Tim Biru.
tutorial membuat diy mudah bersama anak dengan memanfaatkan kalender bekas

Ini waktunya berkreasi! Bebaskan anak untuk membuat nomernya sesuai yang dia inginkan. Mau diwarnai, atau tidak. Mau tulis pakai crayons, atau spidol, atau pensil. Mau dihias, atau tidak. Bebas!
Tapi karena kertas kalender dinding biasanya mengkilat, tidak semua jenis alat tulis bisa dipakai. 

5. Siap untuk melengkapi permainan kompetitif bersama anak!

Hasil jadinya seperti ini, Mah.


Penting untuk diingat:

Agar kegiatan ini menjadi kegiatan DIY seru bersama anak, Mamah diharap bisa sebanyak mungkin memberikan komentar positif dan semangat selama proses pembuatan. Kita para Mamah ini terkadang suka memberi komentar yang secara tidak sadar menciutkan hati anak-anak:
"Haduuuh.. Ini mengguntingnya kok gak lurus sih! Kayak Mamah gini loh, rapi!"
"Ya ampun, Kaaak! Ngasih lemnya kebanyakan ini. Udah sini. Mamah aja yang ngelem"
Familiar?
Banget, kalo buat saya.
Akibatnya sekarang Kak Faza terkadang jadi gampang menyerah: "Udah nih Mamah aja deh", karena secara tidak sadar dia takut mencoba karena takut diomelin Mamahnya kalo salah. Lah padahal kan wajar saja kalau anak melakukan kesalahan, atau kalau hasilnya tidak sempurna.
Maka dari itu, Mah, sering-sering ajak anak untuk membuat DIY guna melatih keterampilan motorik halusnya. Anak dengan kemampuan motorik halus yang bagus umumnya bisa menggunting dengan lurus, mewarnai 'tidak keluar garis', atau menulis dengan rapi. Gimana? Marvelous toh, 
Ayo, Mah, agendakan juga kegiatan membuat DIY yang seru dan mudah bersama anak yaaa..


Selamat menikmati waktu berkualitas bersama anak!

Selasa, 27 Februari 2018

Asah Ide Kreatif Anak dengan Permainan Ini.

Si Kakak ada yang hobi gambar?
Samaan dong kayak Kak Faza. yes, tosss!

Kak Faza ini kalau sudah asyik menggambar, sepanjang siang pun dia betah terus menuangkan kreasinya sampai menghabiskan satu buku penuh. Saat waktunya tidak terganggu, dia bisa membuat sampai 2 atau 3 cerita seri bergambar dalam 38 lembar buku tulis. Ya itulah.. Hobinya menggambar.
Makanya tak heran, waktu siang-siang dia nganggur, kebosenan, gak ada PR, dan temennya gak ada yang nyamperin ke rumah, biasanya dia langsung teriak, "Mah, main tebak gambar yuuuk!"
A...yo! Ada yang mau ikut main juga?

Gini caranya. Simpel aja:

1. Pikirkan sebuah benda, atau kata, lalu...
2. Buatlah gambarnya.
3. Yang lain harus menebak apa benda atau kata yang dimaksud.
4. Jika ingin ada tantangan agar lebih seru, bisa digunakan batasan waktu. Misalnya, 45 detik untuk menggambar sambil yang lain terus menebak sampai benar. Kalau waktu sudah habis, tapi belum bisa menebak jawaban dengan benar, ya dianggap menyerah.
Atau bisa pakai "nyawa", misalnya diberi tiga kali kesempatan menjawab, atau 3 "nyawa". Kalau "nyawa"nya sudah habis, tapi belum bisa menebak jawaban dengan benar, ah.. sayang sekali, tidak bisa dapat poin.

Ada alternatif permainan Tebak Gambar lain yang biasa saya mainkan bersama murid-murid di kelas. Pada dasarnya, cara mainnya sama saja, tapi ada pihak lain yang netral, yang tidak ikut bermain, yang harus menentukan beberapa nama benda atau kata yang harus ditebak. Kalau versi permainan Tebak Gambar yang ini menurut saya lebih greget, karena para pemain tidak ada yang tahu apa yang harus digambar. Jadi misalnya Mamah sama si Kakak nih yang bermain Tebak Gambar. Maka,

1. Si Papah yang bertugas menuliskan nama-nama benda atau kata yang harus ditebak di beberapa lembar kertas kecil-kecil.
Tips: Akan lebih mudah jika menggunakan nama benda atau kata yang konkrit, ada wujudnya, jadi bisa digambar. Misalnya, "Nasi Bebek", atau "Kebakaran". Jangan gunakan kata atau benda yang abstrak, semacam "RINDU". Dilan aja berat ngerasainnya, apalagi kita yang harus gambar kan ya..

2. Misalnya sekarang giliran Kakak nih, Mah. Dia harus ambil 1 kertas kecil tadi secara acak, dan membuat gambarnya untuk kemudian harus ditebak oleh Mamah.

3. Sama seperti sebelumnya, agar lebih menantang, bisa digunakan batasan waktu atau kesempatan menjawab. Kalau belum bisa menebak dengan benar setelah waktu / kesempatan menjawab sudah habis, gak bisa dapat poin.

Iya.. Poin. Harus selalu pakai poin.

It's always been competition kalau Kak Faza main dengan saya. Berkompetisi dalam skala kecil ini adalah salah satu usaha saya untuk mempersiapkan Kak Faza sebelum dia berkiprah di kancah lomba yang sebenarnya. Disini bukan saya saja kan yang merasa khawatir saat mengikutsertakan anak ke sebuah lomba?!
"Gimana nanti kalau dia kalah?"
"Apalagi kalau dia gak bisa menerima kekalahan dan ngotot minta menang"
"Aduh, jangan-jangan nanti dia jadi sombong kalo menang".
Kepikiran begitu terus.
Karena memang sesungguhnya, Mah, ada tahapan emosi yang perlu dikembangkan supaya anak mempunyai jiwa kompetitif yang positif, yaitu "emosi ke-aku-an" atau self-conscious emotion. Jika dipupuk dengan baik, emosi ini nantinya akan tumbuh menjadi motivasi diri dan jiwa sportif.
Lewat permainan kompetitif yang anak mainkan di rumah, anak berlatih untuk 'berkompetisi' dan belajar bagaimana bersikap dalam kompetisi dalam lingkungan rumah yang 'aman' bersama keluarga. Jadi dalam proses pembelajaran ini, kita sebagai orangtua harus menjadi contohnya.

Oke, kembali ke Tebak Gambar.

Untuk mencatat poin permainan, biasanya sih cuma dengan menggambar kotak skor nilai di pojokan kertas. Tapi, eh, tapi.. Saya menemukan harta terpendam habis beberes lemari. Iya, harta. Karena ini sebenernya nilai manfaatnya besar, dan sayang banget kalau dibuang karena masih bagus kinyis-kinyis (yaaah.. berdebu sih. haha..) Bener-bener  terpendam, karena gak pernah kepake sama sekali. Apa itu? Tunggu postingan saya selanjutnya yah di blog. Saya akan bagi tahu DIY yang mudah dengan memanfaatkan kalender meja untuk bermain dengan anak. Stay tune!

Meskipun kelihatannya sepele, tapi permainan semacam ini manfaatnya gede banget buat otak.

Dalam permainan Tebak Gambar terjadi sebuah proses merubah sebuah kata menjadi sebuah gambar. Dalam otak si Kakak, proses ini membutuhkan kemampuan visualisasi dan daya ingat. Kabar baiknya, semua kemampuan itu sangat penting untuk si Kakak memahami teks bacaan.

Kemampuan lain yang bisa terasah lewat permainan Tebak Gambar ini, ya tentu saja,

berpikir kreatif dengan ide-ide original.

Misalkan, kata yang harus ditebak adalah "Nasi Bebek". Si Kakak akan mencari cara bagaimana supaya dapat menyampaikan "Nasi Bebek" lewat media gambar. Meskipun tidak jago gambar, dia akan menggambar bentuk sedemikian rupa supaya kelihatan semirip-miripnya dengan "Nasi Bebek". Ini usaha yang kreatif, dan idenya orisinil, karena tidak ada gambar yang bisa dia contoh. Di perkembangan zaman sekarang ini, memiliki ide kreatif dan orisinil bagaikan memiliki simpanan emas, Mah. Sadar, kan, pertumbuhan ekonomi kreatif di Indonesia mencapai hampir 5% dalam satu tahun saja, dan memberikan kontribusi sebesar hampir 8% dari total perekonomian Indonesia.

Kita pastinya kepengen mendidik anak supaya jadi pinter kan. Ayo, Mah, sama-sama kita pupuk pemberian Allah pada anak-anak kita supaya tumbuh menjadi sesuatu yang berpotensi besar untuk memberi manfaat dan berkah bagi banyak orang. 

Selamat menikmati waktu berkualitas bersama anak, Mah!


main tebak gambar dengan anak untuk melatih anak menghasilkan ide kreatif dan orisinal

Baca Buku untuk Bayi — Gimana Caranya?

Baca Buku Untuk Bayi - Perlukah? Mungkin timbul anggapan bahwa bayi masih belum mengerti saat orang tua membacakan buku, karena mereka...