Minggu, 28 April 2019

Ide Aktivitas Agar Anak Mau Belajar dan Mengerjakan PR Tanpa Dipaksa


Assalamualaikum.. Muna Fitria a.k.a Mamahfaza disini 

Liburan sekolah sebentar lagi. Yeay! Ini juga berarti waktunya ujian akhir sekolah.

Sebagai bekal belajar untuk PAS (Penilaian Akhir Semester), atau kalau jaman dulu istilahnya UAS ya, biasanya anak diberi rangkuman materi dan soal-soal selama satu semester. Itu gak sedikit loh, bisa berlembar-lembar, sehingga anak biasanya jenuh mengerjakan. Padahal sebenarnya kan itu penting untuk me-review pelajaran yang sudah lama terlewati.

Terus gimana dong cara paling ampuh agar anak mau belajar tanpa Mamah harus marah-marah?

Ajak anak belajar sambil bermain. Anak bisa tetap mengerjakan soal-soal latihan tersebut dengan cara yang lebih menyenangkan, tanpa harus duduk diam menatap soal berlembar-lembar.

Ide aktivitas belajar sambil bermain ini terinspirasi dari games yang biasa saya mainkan dengan murid-murid di kelas Bahasa Inggris. Siapa disini yang Guru Bahasa Inggris? Put your hands up Haha.. Pasti udah tahu games ini deh. Permainan ini dikenal dengan nama JEOPARDY.

JEOPARDY ini salah satu games yang paling sering dimainkan dalam pelajaran Bahasa Inggris. Modelnya sih ya seperti bermain kuis. Biasanya saya mainkan setelah menyelesaikan satu bab untuk me-review vocabulary dan grammar yang sudah diajarkan. Nah, karena memang games ini cocok banget untuk kegiatan review, kenapa gak saya pakai aja untuk membantu anak saya belajar untuk PAS?

Nah, sekarang kita mulai tutorialnya ya.

Untuk belajar sambil bermain Jeopardy ini, Mamah butuh:

1. Kertas / buku kosong.
Lebih bagus lagi kalau pakai papan tulis, Mah, kalau punya. Jadi berasa kayak main kuis beneran.

2. Soal-soal latihan ujian.
Pertanyaan untuk latihan soal bisa diambil dari buku pelajaran, buku khusus latihan soal seperti LKS (Lembar Kerja Siswa), atau dari rangkuman soal yang diberikan sekolah. Untuk latihan soal PAS (Penilaian Akhir Sekolah), Si Kakak biasanya juga diberikan soal ujian tahun lalu. Yang mana saja bisa dipakai.

3. Alat tulis (bulpen / pensil / spidol).

4. Uang mainan (optional).

Nah, begini cara belajar sambil bermain Jeopardy:

1. Gambar tabel seperti contoh di bawah.


























Baris mendatar paling atas (yang berwarna hijau) untuk kategori pertanyaan. Kategori pertanyaan ini bisa diisi dengan:
- Mata pelajaran yang akan diujikan besok. Misalnya, Bahasa Inggris dan PJOK.
Tapi menurut saya, kategori ini terlalu luas, sehingga tidak banyak soal yang bisa dijawab anak. 

- Mata pelajaran dalam Tema.
Kita sudah tahu ya pembelajaran di SD menggunakan Kurikulum 2013 dilakukan secara tematik integratif. Tematik SD Kelas 2, misalnya, mencakup mata pelajaran PPKn, Bahasa Indonesia, Matematika, dan SBdP (Seni Budaya dan Prakarya).

- sub tema. Setiap buku Tematik SD dibagi dalam sub-tema 1 sampai 4.

Kolom menurun paling kiri (yang berwarna kuning) untuk skor.
Makin ke bawah, makin besar nilainya. Makin besar nilai yang akan didapat, makin susah pertanyaannya. Misalnya, skor paling rendah berisi pertanyaan dengan pilihan ganda dan skor paling tinggi berisi pertanyaan uraian.
Atau, makin besar nilai yang akan didapat, makin banyak pertanyaan yang harus dijawab. Terserah Mamah enaknya yang mana.

TIPS:
Karena dalam pelajaran SD Kelas 2 ada materi tentang uang, saya menggunakan nilai mata uang sebagai skor. Setali tiga uang yah, Mah. Bisa sekalian belajar berhitung. Teteup.. Mamah-Mamah kalo gak multitasking rasanya gak enak, hehe..

Sebagai contoh, ini tabel yang saya pakai untuk belajar sambil bermain bersama Si Kakak.
Misalnya, jadwal ujian Si Kakak besok adalah Tema 5 dan Pendidikan Agama. Ada dua ronde permainan: tiap ronde untuk satu mata pelajaran. Saya gunakan nilai mata uang sebagai skor. Dua skor terendah berisi pertanyaan dengan pilihan ganda, dua skor di tengah berisi pertanyaan isian, sedangkan skor tertinggi berisi pertanyaan uraian. Untuk Tema, kategori pertanyaan saya bagi berdasarkan mata pelajaran.



PPKn
Bhs. Indonesia
Matematika
SBdP
10.000




20.000




30.000




40.000




50.000






Sedangkan untuk mata pelajaran Agama, pertanyaan saya kategorikan per bab. 


Bab 4
Bab 5
Bab 6
10.000



20.000



30.000



40.000



50.000




3. Minta anak untuk memilih satu kotak, misalnya: PPKn 30.000
Berikan pertanyaan yang sudah Mamah siapkan sebelumnya. Karena yang dipilih adalah kotak PPKn 30.000, saya carikan 2-3 pertanyaan isian dari lembar soal PPKn.

4. Jika anak berhasil menjawab pertanyaan yang Mamah berikan, dia berhak mendapat "uang" sesuai dengan skor yang tertulis, yaitu 30.000

5. Berikan tanda pada kotak-kotak yang sudah terjawab. , misalnya.

Begitu seterusnya sampai batas waktu yang ditentukan, karena meskipun belajar sambil bermain menyenangkan, fokus / konsentrasi anak tidak bisa bertahan lama.
Menurut ahli perkembangan anak, teori mudah untuk menentukan attention span atau lama anak bisa fokus adalah 2-5 menit dikali umurnya.
Misalnya, Si Kakak  yang berusia 9 tahun, otaknya hanya bisa bertahan untuk konsentrasi selama sekitar 18-45 menit. Oke, jadi saya ambil tengahnya saja. Kegiatan belajar saya batasi maksimal 30 menit, istirahat, kemudian dilanjutkan lagi.
Kita bisa ganti dengan kegiatan belajar sambil bermain yang lain. Msalnya bermain BINGO atau bermain flashcards angka untuk belajar berhitung / Matematika.

5. Untuk menambah motivasi, Mamah bisa menawarkan hadiah / reward untuk anak. Misalnya, jika bisa mendapatkan total nilai sekian, anak bisa beli makanan yang disukai besok sehabis ujian.

Masih bingung gimana cara mainnya? Silahkan head over to my Instagram @mamahfaza
Cek Highlight Stories "Main Apa Hari Ini"
Disitu Mamah bisa lihat video "tutorial" saat saya belajar sambil bermain bersama Si Kakak.

Semoga bisa membantu anak belajar untuk ujian dengan menyenangkan.
Semoga bisa jadi ide aktivitas belajar sambil bermain untuk mengajar anak di rumah.

Kalo Mamah, apa nih cara ampuh supaya anak mau belajar & mengerjakan PR tanpa Mamah harus marah-marah? Soalnya saya orangnya agak 'sumbu pendek' nih, gampang kesulut, hehe..

Selamat menikmati quality time bersama anak 💜 

Sabtu, 26 Januari 2019

5 CARA MUDAH UNTUK MENGURANGI SAMPAH DAN MEMULAI HIDUP ZERO WASTE DI INDONESIA (PART 1)


PERTEMUAN PERTAMA DENGAN ZERO WASTE INDONESIA


Awalnya dimulai dari saya mengikuti (baca: coba-coba ikutan) kampanye Plastic Free July di tahun 2018. Saya akhirnya terhubung secara digital dengan beberapa pejuang gerakan minim sampah di Indonesia, seperti Zero Waste Indonesia, Sustaination, DK Wardhani, dan lainnya lewat beberapa hashtags berbau zero waste yang saya gunakan saat posting di Instagram.

W.O.W. Bulan itu benar-benar mengubah hidup saya. Selama ini saya terlalu skeptikal. Saya beranggapan bahwa orang-orang disini bakalan susah diajak hidup minim sampah begini. Lha wong disuruh antri yang rapi aja gak bisa #eh Tapi ternyata banyak juga pihak perorangan, komunitas, atau korporasi yang memperjuangkan terwujudnya hidup zero waste di Indonesia.

Jika sebelumnya tidak banyak yang bisa saya lakukan untuk lingkungan selain menolak kantong plastik saat berbelanja, sekarang dengan lebih banyaknya referensi yang lebih relatable karena bersumber dari negeri sendiri, lebih banyak aksi ramah lingkungan yang bisa saya lakukan (dan mudah-mudahan bisa menjadi kebiasaan dan gaya hidup).



CARA MUDAH MEMULAI HIDUP ZERO WASTE


Apa cuma saya yang merasa kewalahan setelah membaca banyaknya referensi dan rekomendasi tentang zero waste di Indonesia? Ibarat ibu-ibu suka nyimpen resep macem-macem tapi gak ada yang pernah dipraktekkan #eeaa Makin saya baca, makin banyak posting Instagram yang saya simpan, makin saya merasa beraaat mau menjalankannya. Ibarat memori RAM sudah overload gegara kebanyakan install aplikasi, hape jadi nge-hang. Begitulah gawatnya kalo merasa kewalahan; malah enggan berbuat apa-apa sama sekali.

Untuk mengatasinya, saya harus memilah informasi yang masuk. Di antara semua aksi ramah lingkungan yang disarankan berbagai sumber, saya pilih yang sekiranya bisa langsung saya lakukan dengan usaha minimal  Nah, berikut beberapa aksi mudah yang selama ini sedang saya coba lakukan secara rutin.


1. Bawa Tas Belanjaan Sendiri


Sebenarnya ini sudah saya lakukan selama bertahun-tahun. I'm a tote bag type of woman, jadi kalau sekedar beli apa di minimarket saja sih langsung saya masukkan dalam tas, tanpa kantong plastik.
Untuk mengurangi konsumsi kantong plastik dan energi, saya berhenti berbelanja bulanan dalam jumlah besar ke supermarket. Biasanya bawa pulang barang belanjaan paling sedikit lima kantong plastik besar. Terlalu banyak barang, tidak cukup banyak reusable shopping bags yang saya punya. (Sebenarnya kan saya tinggal beli lagi ya? ) Eh, tapi selain itu, saya harus selalu naik taxi untuk bisa mengangkut belanjaan sebanyak itu.
Sekarang saya lebih memilih berbelanja ke minimarket di dekat rumah. Saya jadi hemat biaya transportasi karena kesana hanya perlu berjalan kaki.
Saya tidak lagi menyampah banyak kantong plastik; hanya perlu berbekal satu tas kain untuk membawa barang belanjaan secukupnya.
Saya tidak perlu meyisihkan waktu khusus untuk belanja di mall; kapanpun Si Batita pengen jalan-jalan di luar rumah, saya ajak ke minimarket. Jadi sekarang belanja bulanannya dicicil gitu lah ya, haha..

TIPS:
Siapkan masing-masing satu tas belanja (atau mungkin lebih) di setiap tas yang biasanya kita pakai: tas kerja, tas jalan-jalan.. Siapkan juga di motor atau mobil. Jadi, tidak ada lagi momen "Aduh.. Tas kainnya ketinggalan di rumah, tadi gak kebawa" (dan lalu akhirnya pulang dengan sampah kantong plastik )


2. Bawa Wadah Sendiri Saat Belanja Ke Pasar


Dengan modal sekitar Rp50.000-an, saya sudah punya bekal peralatan yang cukup: 1 set wadah makanan berbagai ukuran untuk bisa bawa wadah sendiri ke pasar.
Belanja di pasar itu bisa jadi sumber sampah plastik loh. Bayangin aja, tiap pedagang bungkus belanjaan kita pake kantong plastik. Berapa pedagang yang kita datengin? Berapa sampah plastik yang kita hasilkan?
Cuma dipake berapa menit doang tapi sampahnya awet menghantui dan merusak sampe ratusan tahun.
Dengan bawa wadah sendiri ke pasar, paling tidak saya bisa menghindari sampah plastik untuk bahan makanan seperti ayam, daging, ikan, tahu, beras, sayuran, bawang, telur, buah, ...
Untuk bahan makanan yang sudah pre-packaged (dibungkus dari pabrik) seperti tepung, merica, sosis, ... yah mau dihindari gimana lagi? Kalau ada yang tidak dalam kemasan sih sudah pasti saya beli.

TIPS:
Sebelum ke pasar, biasanya kita bikin daftar belanjaan dulu kan ya, Mah.. Nah, dari daftar belanjaan ini, kita bisa tahu wadah apa saja yang perlu dibawa.


3. Gunakan Reusable Straw / sedotan yang dapat dipakai ulang


Bahannya bervariasi: ada yang dari stainless steel, bambu, kaca. Harganya juga bervariasi, biasanya mulai dari belasan ribu sampai tiga puluhan ribu rupiah.
Saya punya 3 stainless straws kecil dan 1 stainless straws besar buat nyedot Es Cao, Bubble Tea, dan kroni-kroninya 😁
Sedotan stainless saya yang pertama adalah hadiah giveaway dari Mbak @nofifadila Thanks for the encouragement from your constant act of minimizing waste, Mbak.
Stainless straw besar ini saya beli di Ekko Store, harganya Rp35000.
Stainless straw yang kecil saya beli di Alang-Alang Zero Waste Shop, harganya belasan ribu rupiah.
Stainless steel straw brush juga saya beli di Alang-Alang, harganya di bawah Rp5000

TIPS: 
Siapkan 1 wadah khusus. Dalam wadah saya ini isinya seperangkat stainless straws & sendok garpu. Ini wajib bawa banget kalo pas jalan-jalan ke mall, atau pas dine out, karena di food court, misalnya, seringnya pake peralatan makan yang dari plastik kan ya?!
Nah nanti pas order jangan lupa bilang, "Gak usah pake sedotan yah.. Gak usah sendok garpu juga." *senyum*


4. Ganti Sikat Gigi dengan Sikat Gigi Bambu

Serius ini rugi banget kalo gak dilakukan, karena harga sikat gigi bambu hampir sama dengan sikat gigi plastik yang dijual di pasaran. Bahkan bisa lebih murah dari merek tertentu. Untungnya gigi saya bukan gigi sensitif, jadi ya oke saja pakai sikat gigi bambu ini.
Saya beli sikat gigi bambu ini di Ekko Store dan Alang-Alang Zero waste Shop, harganya sekitar Rp19000. Yang kecil harganya cuma Rp1000 - Rp2000 lebih murah. 
Dari pengalaman sih, bulu sikatnya mulai rusak baru setelah pemakaian 5 bulan. Tapi untuk pertimbangan hygiene, secara kita biasanya taruh sikat gigi di dalam satu ruangan sama toilet kan ya, sikat gigi baiknya diganti per 3 - 4 bulan.


5. Ganti Tisu dengan Kain yang Dapat Dipakai Ulang 


Tahu kan kalo tisu asalnya dari pohon, sama seperti kertas? Jadi sayang dong hutan yang menyediakan oksigen untuk kita bernapas ditebang cuma untuk dibuang sekali pakai? 
Menurut survei WWF IndonesiaXHakuhudo, masyarakat Indonesia di kota besar rata-rata menggunakan 3 lembar tisu untuk mengeringkan tangan saja, belum untuk yang lainnya.
Saat "masih khilaf" dulu, tiap bulan saya bisa menghabiskan 3 pak tisu ukuran besar, ditambah 2 pak tisu ukuran kecil untuk dibawa dalam tas, ditambah lagi tisu basah. Ah! Udahlah. Kebayang ya tumpukan sampahnya kek gimana.

TIPS:
Untuk pengganti tisu di rumah, saya daur ulang selimut bayi jaman si Kakak dulu. Satu kain selimut dipotong jadi 16, lalu tiap potongan dineci sisi kelilingnya.
Sebagai pengganti tisu untuk saya bawa dalam tas, saya pakai Reusable Cloth dari Alang-Alang. Produk ini jenius banget, serius! Packaging-nya persis sama kayak tissue travel pack, plus di bagian belakang ada kantong untuk kain yang habis dipakai. So handy. Harganya Rp50000 isi 10 lembar. 


Disclaimer:
Saya bukan pakar zero waste. Kita sama kok: sama-sama sedang belajar dan berjuang merubah gaya hidup menjadi lebih sustainable dengan menghasilkan minim sampah.
Tulisan ini adalah pemahaman saya terhadap banyak informasi yang saya dapatkan dan pelajari dari buku, beberapa website resmi gerakan zero waste, dan posting media sosial para pejuang zero waste. Pemahaman inilah, dengan bahasa dan pola pikir yang bisa saya cerna, yang saya tanamkan dalam diri saya, yang saya jadikan pegangan dalam berperilaku lebih ramah lingkungan.
Cara-cara yang saya tuliskan di atas adalah yang selama ini saya lakukan di awal perjalanan hidup minim sampah saya ini.

Jadi, sudah siap memulai hidup minim sampah? Sebelum terlambat loh..

Senin, 14 Januari 2019

TAMAN SUROBOYO: Rekomendasi Tempat Wisata Keluarga di Surabaya

TAMAN SUROBOYO: Rekomendasi Tempat Wisata Keluarga di Surabaya

Kalau cari tempat wisata di Surabaya yang keren dan menarik untuk dikunjungi, salah satu pilihannya adalah TAMAN. Iya, taman! Per 2018 lalu, dikutip dari Tribunnews, Surabaya sudah mempunyai 35 taman dan masih membangun beberapa lainnya.

Taman-taman di Surabaya memang pantas dibanggakan. Dengan biaya masuk gratis, disana warga Surabaya bisa hunting spot foto yang bagus, wisata kuliner, atau sekedar duduk santai. Tapi awas jangan berdua-duaan! Di setiap taman di Surabaya sudah terpasang tanda "Dilarang Pacaran" loh

Taman-taman di Surabaya juga sering menjadi tujuan wisata keluarga saat weekend karena dilengkapi dengan fasilitas ramah anak. Taman bermain dengan ayunan & the geng sudah pasti ada. Beberapa taman juga dilengkapi dengan lapangan futsal, lapangan basket, bahkan tur menyusuri sungai dengan perahu motor. Gimana? Masuk, Pak Eko?

Beberapa waktu lalu, saya main-main ke satu taman yang belum pernah saya kunjungi di daerah Kenjeran:

Taman Suroboyo


LOKASI TAMAN SUROBOYO

Taman Suroboyo ini letaknya pas di sebelah Pantai Kenjeran dan pas di seberang Sentra Ikan Bulak. Kalau ada yang pernah ke Jembatan Surabaya, nah Taman Suroboyo ini ada di dekat situ. Bahkan sebenarnya beberapa tempat rekreasi di Surabaya Utara berjajar berdekatan di Kecamatan Kenjeran ini.

Kalau kita datang dari arah selatan, secara berurutan kita melewati KenPark (dengan patung gurita di gerbang masuknya; lokasi Atlantis City), Pantai Kenjeran Lama (dengan dermaga kayu yang menjorok ke laut), Jembatan Surabaya (lokasi Air Mancur Menari - yang hanya dinyalakan tiap Sabtu malam, btw), dan Taman Suroboyo ini.

Kalau kita datang dari arah selatan, selama beberapa menit, kita akan berkendara di sepanjang Jl. Pantai Kenjeran dengan laut yang menghampar di sebelah timur. Ah.. I recommend to roll your windows down. Rasakan segarnya angin laut sepanjang perjalanan. Apalagi kalau cuacanya tidak begitu panas. Perfect 

Nah, begitu terlihat tulisan TAMAN SUROBOYO terbentang di sebelah timur, langsung melipir aja ke parkiran, pemirsah..

BISA NGAPAIN AJA DI TAMAN SUROBOYO?

Taman Suroboyo ini bisa jadi pilihan tempat wisata ramah anak di dalam kota. Hampir semua aktifitas yang bisa dilakukan disini sepertinya memang dikhususkan untuk anak-anak. Bapak-bapak, Ibu-ibu, Mas dan Mbak juga bisa menikmati menghabiskan weekend disini kok.

1) Tersedia beberapa slides (apa sih Bahasa Indonesianya? Prosotan? Seluncuran? Ya itu deh. Tahu kan?!), tapi hanya sedikit, kurang dari lima. Tapi jangan khawatir. Kalau semua mainan di taman bermain penuh terpakai, masih ada permainan lainnya.

2) Kita bisa menyewa mobil mini bertenaga aki seperti yang ada di mall-mall. Untuk anak yang masih terlalu kecil dan belum bisa "menyetir", si pengelola bersedia mengemudikan mobilnya dengan remote. Sayangnya untuk Si Kakak yang sudah 8 tahun, semua mobil mini ukurannya terlalu kecil buat dia. Jadi skuter mini lebih cocok. Belajar nyetir sepeda motor, katanya. Satu kali sewa lamanya sekitar 15 menit.




3) Taman Suroboyo ini ideal dipakai untuk bermain layang-layang karena angin memang berhembus sangat kencang mengingat lokasinya yang bersebelahan langsung dengan pantai. Jangan khawatir, disana beberapa penjual layangan sudah tersedia. Ya meskipun beberapa diantara layang-layang yang ditawarkan kualitasnya tidak begitu bagus sih menurut saya, karena hanya terbuat dari plastik kemasan bekas dan batang lidi, tapi lumayan lah kalau hanya untuk anak-anak. Mereka udah seneng banget walau hanya pegang talinya dan melihat layang-layang mereka terbang meliuk-liuk di udara tertiup angin kenceng. Lagipula mereka juga gak bisa terbangkan layang-layang yang bener kan.


4) Selain bermain layang-layang, bermain gelembung sabun / bubbles juga asik loh. Karena anginnya kenceng kan ya, gelembungnya bisa langsung beterbangan gitu. Berasa syuting video klip. Iya, tenang. Banyak penjual gelembung sabun kok disana. Cobain yang pake tongkat dan tali untuk bikin gelembung jumbo. Seru.

TAMAN SUROBOYO: Rekomendasi Tempat Wisata Keluarga di Surabaya
Cobain bikin gelembung jumbo yang kayak gini | ilustrasi by Kevin Schmid

5) Ada banyak perahu nelayan tradisional yang melayani tur menyeberangi Selat Madura. Sepertinya mereka pelayan lokal yang menyewakan perahu mereka untuk mengantarkan penumpang beberapa kilometer ke tengah laut, lalu kembali lagi. Sayangnya, karena saya tidak bisa berenang, saya harus melewatkan kegiatan yang satu ini; dan karena saya paranoid, saya juga tidak mengijinkan anak-anak saya berlayar ke tengah laut tanpa ada pelampung yang disediakan.

6) Sudah ada di tepi pantai, jangan sampai melewatkan wisata kulinernya. Di sepanjang pantai, berjajar pedagang kaki lima yang menggelar lapak dengan berbagai menu ditawarkan. Lontong Kupang dan Sate Kerang jadi menu wajib lah pasti. Tapi yang lain juga banyak kok. Tinggal pilih aja: camilan macam gorengan, sempol, cireng and the geng; atau makanan berat macam Sate Ayam. Minumnya mau dalam kemasan botol atau es kelapa muda segar - tinggal pilih.

7) Satu hal yang gak boleh ketinggalan ya, buibuk: belanja. Mumpung ada di area pesisir, boronglah sepuasnya berbagai produk olahan laut: ikan panggangan, bermacam-macam keripik dan kerupuk, berbagai bentuk kerajinan tangan, atau bahan makanan kering macam petis, terasi and the geng. Tinggal ke seberang jalan, ada Sentra Ikan Bulak (SIB). Tapi kabar-kabarnya, bangunan yang ditujukan untuk relokasi pedagang kaki lima ini sudah bertahun-tahun sepi pengunjung. Masih banyak pedagang yang berjajar di pinggir jalan. Entah karena ini maka SIB jadi sepi, atau karena SIB sepi jadi mereka balik lagi ke jalanan? Entahlah. Butuh investigasi lanjutan untuk mengetahui jawabannya.


TAMAN SUROBOYO: Rekomendasi Tempat Wisata Keluarga di Surabaya


BIAYA KEGIATAN DI TAMAN SUROBOYO

Masuk taman gratis.
Parkir sepeda motor Rp3.000
Parkir mobil Rp5000
Naik perahu mulai dari Rp10.000
Mobil / skuter mini Rp10.000 per anak, atau Rp15000 per dua anak dalam satu mobil.
Berbagai makanan, snack dan minuman mulai Rp1000

YANG PERLU DIPERHATIKAN SAAT KE TAMAN SUROBOYO

Karena Taman Suroboyo ini lokasinya pas di sebelah pantai, jadi ya anggap saja seperti pergi ke pantai. Seperti daerah pantai pada umumnya, suhunya pasti lebih panas. Jadi, sunblock SPF tinggi wajib hukumnya kalau Mamah tidak mau berakhir dengan kulit gosong yes.

Jangan lupa bawa kacamata hitam juga, atau pake topi sekalian juga gak papa deh. Dari ekspresi kami di foto ini kelihatan sudah jelas ya bagaimana silaunya pantulan cahaya matahari di air laut. Serius silau banget! Ini demi keamanan mata Mamah juga biar gak kena radiasi sinar UV.


KESIMPULAN

Taman Suroboyo ini beneran salah satu taman di Surabaya dengan fasilitas yang istimewa. Kita jalan-jalan di taman tapi berasa kayak di pantai. Serius. Angin lautnya healing banget. Menyegarkan. Seakan semua penat dan stres dihempaskan oleh hembusannya, haha.. Apalagi pas cuacanya mendung-mendung manjah. Ah, udah. Berasa kayak pingin gelar kasur aja deh disana.

Tapi sayangnya karena lokasi Taman Suroboyo di Kenjeran yang jauh dari rumah, mungkin saya tidak akan bisa sering datang kesana. Yang jelas, saya masih ingin kesana lagi. Masih banyak spot yang belum sempat kami jelajahi waktu itu karena mendung gelap keburu datang. Berhubung ada empat anak kecil, kami buru-buru pulang sebelum hujan.

Yang udah pernah main ke Taman Suroboyo, apa nih yang saya lewatkan dari kunjungan saya kesana? Dengar-dengar kita bisa jalan-jalan ke kampung nelayan yang rumah-rumahnya didekorasi warna-warni gitu ya? Bener gak sih?

Kalo yang lain gimana?
Mau coba main ke Taman Suroboyo weekend ini bareng anak-anak?

Rabu, 14 November 2018

LAKUKAN INI SEKARANG UNTUK MENCEGAH KECANDUAN GADGET PADA ANAK

cara mengatasi dan mencegah anak kecanduan gadget

SETAN KOTAK itu bernama GADGETS
Kayaknya emang bener gak sih, Mah? Elektronik berbentuk kotak itu sedikit banyak sudah membawa dampak jelek layaknya setan:
Anak-anak jadi kecanduan games. Mereka makin gampang terpapar konten mengerikan, macam video-video alay, pornografi, kekerasan.
Sementara kita orangtuanya juga ikut tersedot dalam posts di timeline dan stories FB dan IG yang tanpa akhir. Ah, belum lagi video di YouTube. Ah, belum lagi obrolan di grup WhatsApp. Gadgets tak pernah lepas dari genggaman.
Sehingga makin sedikit waktu untuk dinikmati bersama keluarga, bahkan untuk sekedar ngobrol santai.
Anak-anak jaman now adalah generasi digital native. Kata orang, "masih bayi udah bisa pegang HP". Ya itu karena mereka memang terlahir di jaman teknologi digital sudah berkembang pesat. Jadi tidak mungkin kita sepenuhnya menghindarkan mereka dari paparan teknologi. Yang bisa dilakukan adalah mencegah anak-anak kecanduan gadgets.
Lagipula, di sisi lain, gadgets punya dampak positif untuk anak-anak: mereka bisa akses materi untuk self-study (belajar mandiri) lewat aplikasi atau video; mereka bisa bersosialisasi dengan teman atau keluarga lewat telepon atau video call. Bahkan banyak murid saya dulu yang mengaku mendapat banyak kosakata Bahasa Inggris dari games yang mereka mainkan. Tapi ... 
Too much of anything is bad - Mark Twain
Itulah kenapa waktu yang anak-anak habiskan di depan layar (screen time) harus dikontrol agar mereka tidak kecanduan gadgets.

Kuncinya hanya satu: KONSISTEN
konsisten artinya: tetap (tidak berubah-ubah), taat asas, ajek

Orangtua yang tidak konsisten akan membuat anak bingung mana perilaku yang seharusnya mereka lakukan, sehingga akhirnya mereka stres karena orangtuanya plin-plan.
House rules / Family rules (peraturan di rumah / dalam keluarga) hukumnya wajib ada ya, Mah. Anak-anak harus dibiasakan hidup dalam tata tertib dimana pun, dimulai dari rumah, termasuk dalam hal menggunakan gadgets.

 "Bu, main tab.."
 "Loh, tadi kan adek sudah main"
 "Ah, enggak! Mau main tab lagiii!"

 "Mah, hape. Liat Youtube"
 "Wah, hape Mamah mati, dek. Maaf ya" (sengaja bohong supaya anak gak YouTube-an terus)
(5 menit kemudian, terlihat  bawa HP Papahnya)

 "Kak, TV-nya matikan ya. Kakak udah lihat TV lama dari tadi"
 "Iya, sebentar"
(30 menit kemudian,  masih di depan TV)

Kalau selama ini adegan-adegan di atas masih terjadi, hayuuk sekarang kita bikin aturan main gadgets bareng-bareng, Mah.

Nah, ini panduan membuat aturan pakai gadgets untuk anak:

1. Diskusikan dulu dengan pasangan

Sebelum membuat kesepakatan dengan anak, Mamah pastikan dulu bahwa peraturan yang akan Mamah terapkan sudah mendapat ACC dari Si Papah. Jadi Papah-Mamah harus satu suara ya kalau mau benar-benar menerapkan disiplin pada anak. Ini juga bagian dari konsistensi. Kalau tidak, anak bisa bingung dengan aturan mana yang harus diikuti dan malah akan banyak memberontak.

2. Ajak anak berdiskusi juga

Dengan mengikutsertakan anak dalam membuat keputusan, mereka akan lebih merasa dihargai dan percaya diri. Yang lebih penting, mereka akan lebih mandiri dalam memecahkan masalah, karena mereka tidak melulu menerima perintah orangtua. Dengan berdiskusi, mereka berlatih mengembangkan kreativitas dalam mencari solusi.
Untuk anak-anak yang lebih muda, tetap ajak mereka bicara. Mereka mengerti kok. Misalnya, "Wah, makannya sudah habis. Lihat videonya sudah ya, dek" 

3. Buat aturan tertulis

aturan pakai gadget untuk mencegah anak kecanduan gadget

Melihat fakta yang ditunjukkan diagram lingkaran pada infografik di atas, sudah jelas ya bahwa visual penting peranannya dalam proses belajar / memperoleh informasi.
Yang ku lakukan:
Aturan pakai gadgets yang sudah disepakati bersama ku jadikan poster. Poster ini aku tempel di sebelah TV supaya terus terlihat Si Kakak (anak pertamaku, 8 tahun) dan ku juga gampang mengingatkan. Misalnya, dia mulai nyaman tiduran di sofa lihat YouTube. Anak akan lebih banyak ingat sesuatu yang mereka dengar dan lihat secara bersamaan kan, jadi ku suruh dia lihat posternya sambil ku ingatkan, "Kakak, duduk. Ingat?" Lama kelamaan, terkadang malah ku tak usah pake ngomong, tinggal tunjuk poster 

Notes: Baca terus sampai habis ya, Mah. Nanti saya kasih posternya gratis tinggal unduh 

4. 5W + 2H

Dalam aturan pakai gadgets, Mamah harus sertakan poin-poin berikut:

What - Tentukan jenis gadgets apa yang boleh dipakai dan untuk apa.
Misalnya, hanya boleh pinjam HP Mamah untuk untuk main game, tidak untuk YouTube-an (karena sesungguhnya Mamah #miskinkuota #eeaa)

Where -  Tentukan dimana saja gadgets boleh/tidak boleh digunakan.
Misalnya, tidak boleh ada gadgets di kamar tidur untuk menghindari bahaya paparan radiasi.

When - Tentukan kapan saja gadgets boleh/tidak boleh digunakan.
Misalnya, tidak boleh asik sendiri dengan hapenya saat ada acara keluarga, atau tidak boleh nonton TV saat makan.

Who - Tentukan untuk siapa saja aturan ini berlaku.
Untuk mengatasi kecanduan gadgets pada anak, keluarga harus menciptakan lingkungan yang mendukung. Jika ingin membatasi waktu anak di depan layar, semua anggota keluarga baiknya juga bersama-sama ikut "diet gadgets". Anak belajar paling banyak dengan melihat. Maka jadilah teladan dengan berperilaku seperti yang Mamah ingin anak lakukan. Mamah ingin anaknya gak main game terus seharian? Mamah juga harus bisa berhenti swipe up, swipe left di Instagram terus (paling tidak, saat di depan anak. Pas anak lagi gak ada, lanjut stalking gapapa kali ya? hihi..)

Why - Anak perlu dan berhak tahu mengapa mereka tidak boleh berlama-lama pakai gadgets. Berikan penjelasan sesuai tingkat pemahaman anak. 
Misalnya, pada Si Kakak saya minta dia googling "akibat terlalu lama main gadgets". Hasilnya ada banyak artikel, video, bahkan gambar-gambar ngeri anak-anak korban radiasi HP. Dari situ saya pastikan dia tahu bahwa kami membuat aturan pakai gadgets ini karena kami benar-benar tidak ingin hal-hal buruk itu terjadi padanya. 

How - Tentukan bagaimana cara pakai gadgets yang diperbolehkan dan mana yang tidak.
Misalnya, tidak sambil tiduran, sound harus off saat main game.

How Long - Tentukan berapa lama maksimal pemakaian gadgets. Ada banyak pedoman yang bisa Mamah ikuti. Pastikan sumbernya credible ya.
Sebagai contoh, saya memakai rekomendasi Parentalk pada artikel yang bersumber dari "Buku Anti Panik Mengasuh Bayi 0 - 3 Tahun". Disebutkan bahwa anak seusia Si Kakak diperbolehkan menghadap layar maksimal 2 jam sehari.

5. Imbalan & Konsekuensi

Dalam menerapkan disiplin pada anak, sistem rewards (pemberian imbalan) dikenal lebih efektif dibandingkan punishment (pemberian hukuman). Salah satu cara mudah membatasi waktu anak menggunakan gadgets adalah dengan menjadikannya sesuatu yang harus "didapatkan" dengan usaha, jadi anak tidak begitu saja bebas nonton TV kapan pun dia mau.
Yang ku lakukan beberapa tahun lalu:
Setiap kali Si Kakak (3 - 4 tahun pada waktu itu) mau pinjam HP, dia harus muraja'ah (setor hafalan Qur'an). Imbalannya, biasanya 30 menit screen time.
Terserah Mamah mau anak-anak lakukan apa untuk bisa mendapat akses main gadgets: bereskan mainan, habiskan makan sayur, kerjakan soal persiapan ujian, ... apa saja.

PERHATIAN: Tetap perhatikan batas pemakaian yang disarankan sesuai usia anak.  

Anak juga harus mendapat konsekuensi kalau tidak sesuai aturan. Usahakan natural dan tidak dibuat-buat. Misalnya, karena dalam sehari maksimal pakai gadgets 2 jam, kalau Si Kakak terlalu lama nonton TV, jatah waktu main game-nya jadi makin sebentar.

Disini ku sertakan poster yang sudah ku buat dan sepakati bersama-sama. Nah, jatah waktu maksimal 2 jam ini ku bagi menjadi 30 menit (atau kelipatannya) sekali kesempatan. Artinya, Si Kakak pakai gadgets maksimal 4x dalam sehari.

Misalnya, 
30 menit nonton TV habis bangun tidur (maksudnya, biar dia lebih gampang melek, haha.. Siapa yang begini juga caranya biar anak bisa bangun pagi? )
60 menit main games bareng temen-temennya.
30 menit untuk googling sesuatu yang dia penasaran pengen tahu, tapi tidak bisa temukan di buku.

Di poster aturan pakai gadgets Si Kakak, ku gambar 4 kotak, dimana 1 kotak = 30 menit. Jadi, misalnya tadi pagi dia sudah nonton TV 30 menit, 1 kotak dicentang. Kalau semua kotak sudah dicentang artinya jatah screen time dia hari itu sudah habis. 
"Sori. Harus sabar tunggu sampai besok ya, Kak"

Barangkali Mamah mau buat aturan pakai gadgets yang sama, mungkin karena kita punya anak yang seumuran jadi jatah screen time-nya sama, Mamah bisa pakai template poster yang ku sediakan ini. Sengaja ku kosongkan bagian nama anak dan aturan do's and don'ts-nya supaya bisa disesuaikan dengan kebutuhan keluarga Mamah.
Tinggal isi nama dan e-mail, nanti langsung dikirim ke inbox Mamah. Free!

Selamat menikmati waktu berkualitas bersama anak.
Tanpa gadgets tentunya

Minggu, 07 Oktober 2018

Di Balik Perubahan Penampilan Seorang Ibu

Penampilan Berubah Setelah Jadi Ibu

Jangan ditanya fashion style saat getting dressed as a Mom with a toddler be like…
Penampilan Berubah Setelah Jadi Ibu
Anak gelandotan terus di kaki Mamah. Kapan bisa dandan nih?

Gak ada kancing yang kelupaan dikancingin aja udah bagus.
Maunya mix and match outfits, tapi di lemari cuman sisa beberapa potong, lainnya masih kusut belum disetrika; sekusut rambut Mamah yang belum sempat keramas karena anak selalu nangis histeris saat Mamah masuk kamar mandi.
What a #Modyarhood life.


STYLE BEFORE & AFTER MOTHERHOOD

Awalnya kupikir dari dulu ya ku begini-gini saja; gak pernah fashionable. Tapi setelah ku bongkar kembali kenangan jaman old, tak disangka ternyata ku masuk #TeamBerubah !

Before Motherhood, ku belum kenal pashmina seperti sekarang, jadi cuman pake either kerudung paris segi 4 atau jilbab instan tak bermodel.
Berubah Penampilan Setelah Jadi Ibu

Selain model, dulu ku juga cuma kenal jilbab warna dasar: hitam, putih, navy. After Motherhood, ku sudah berani pakai bermacam warna & motif.
Penampilan Berubah Setelah Jadi Ibu

Dulu ku sering cari aman dengan basic T-shirt & jeans. Setelah jadi Mamah, ku sudah berani mix & match

Penampilan Berubah Setelah Jadi Ibu

Kemungkinan besar ini karena setelah menikah dan punya anak, ...

  1. Tersedia sponsor, yaitu Si Papah, yang siap sedia mendanai pembelian beberapa potong outfit baru.
  2. Ku masuk ke dunia kerja yang menuntut untuk berpenampilan rapi dan profesional. Ku juga mulai belajar pake (very basic) makeup.

CHANGES IN STYLE

Eh, tapi setelah ku berkaca, penampilanku sekarang kok kembali lagi seperti jaman gadis dulu
Penampilan Berubah Setelah Jadi Ibu
Wajahku kembali bareless; pake bedak aja gak sempet, sis, apalagi gambar alis & mata kucing 

Ternyata style-ku berubah tidak hanya sebelum dan sesudah menjadi Mamah, tapi juga during VS. after toddler. Foto-foto after diatas diambil saat Si Kakak berusia 3 tahun ke atas. Sementara saya sekarang masih berkutat dengan Baby Sha yang 2018 ini masih di bawah 2 tahun.
Penampilan saya, atau mungkin juga para Mamah lain, bisa beda antara during VS. after toddler kemungkinan karena ...


During Toddler
After Toddler
Anak masih sangat ketergantungan pada Mamah. Gak kelihatan sebentar aja anak udah panik, padahal Mamah cuma pengen mandi & ganti baju.
Anak lebih mandiri secara emosional sehingga sudah merasa aman walau tanpa Mamah. Mamah jadi punya waktu sebentar untuk bebas dandan & pilah pilih baju.
2 - 3 tahun pertama adalah masa menyusui. Jadi pilihan baju Mamah terbatas pada kategori busui-friendly, kemeja, dan baju dengan resleting/kancing depan.
Karena sudah lulus mengASIhi, Mamah bisa bebas pilih baju model apa aja. Hello again, T-Shirt!
Fase oral anak baru akan berakhir sekitar usia 18 bulan. Mamah tidak ingin mengambil resiko manik-manik kalung Mamah tiba-tiba ada di dalam mulutnya. Jadi, bye, accessories.
"Aksesoris, aku hanya pergi tuk sementara". Dengan berakhirnya keinginan anak untuk memasukkan apapun ke mulutnya, Mamah bisa lebih bebas memakai aksesoris.
… (tambahkan sendiri berdasarkan pengalaman)

Setelah berkali-kali berubah dalam kurun waktu kurang lebih 1 dekade, ku sadar akan beberapa hal:

  • Penampilan Mamah adalah kebanggaan anak

Ku ingat dia pernah bilang:
“Mamah kok bajunya aneh gitu sih?”
saat saya cuek saja jemput sekolah Si Kakak pake atasan, bawahan & jilbab gak ada yang matching,
dan ...
“Mamah pake bedak sama lipstik ini loh, Mah, biar keliatan cantik kayak Mamahnya teman-temanku”
(yah maklum.. sebagian besar memang antar jemput anak dengan make-up paripurna)

Ah.. Malu rasanya sudah membuat Si Kakak merasa malu di depan teman-temannya.
Sadar atau tidak, Mamah adalah satu dari sedikit hal berharga yang anak-anak miliki, dan pastinya mereka ingin membanggakan apa yang mereka punya. Jadi, saya harus terus berusaha menjadi Mamah yang bisa dibanggakan oleh anak, termasuk  dengan berdandan rapi dan terlihat enak dipandang lingkungan sekitar  Inilah motivasi saya untuk melawan malas

  • Judging the book by its cover

Muka pucat tanpa rona lipstik. Kantong mata tidak tersamarkan BB Cream. Jilbab miring. Pakaian kusut.
Secara mengejutkan, penampilanku yang 'apa adanya' seperti ini mengundang komentar miring dari banyak orang. Secara tersirat, ku mendapat kesan bahwa mereka mengira ku tidak bahagia setelah berhenti mengajar dan jadi ibu rumah tangga.
Padahal sebenarnya, 
Ya gimana jilbab gak miring & baju gak kusut, secara Baby Sha masih sering minta gendong.
Ya gimana mau pake lipstik & BB Cream kalau Baby Sha keburu nangis pengen jalan-jalan di luar.
Bukannya saya tidak bahagia.
Ternyata tidak sedikit orang yang masih judging the book by its cover. Maybe that's why appearance (also) matters.

  • Mempercantik diri bukan prioritasku saat ini

Tidak dapat disangkal ya: Setelah melahirkan, prioritas Mamah berubah. Mamah pun berubah. Dalam fase hidup yang berbeda, masalah yang dihadapi pun berbeda. Dunia yang diramaikan dengan gelak tawa anak-anak adalah dunia yang jauh berbeda dari kehidupan saat single dulu. Sebagai orangtua, ku sudah tidak bisa lagi memikirkan diri sendiri.
Jika ku punya 15 menit sebelum jalan-jalan ke mall, misalnya, tentu ku akan mendahulukan
dandanin anak-anak atau packing 'perbekalan' anak-anak, macam minum & cemilan. Ya daripada alis sudah tergambar rapi, tapi lupa bawa popok & baju ganti. Yah, maklum saya juga #TimGakPakeART
Fashionable sudah bukan lagi syarat utama dalam pemilihan baju, tapi juga ...
  • NYAMAN, karena banyak kegiatan fisik yang Mamah lakukan. Ngejar anak yang sibuk explore kesana kemari, misalnya.
Penampilan Berubah Setelah Jadi Ibu
Andalan: KEMEJA! Nyaman  Busui-friendly  Simpel 

  • SIMPEL & PRAKTIS, karena kemungkinan besar akan ada momen anak tiba-tiba bilang “Mah.. Pengen pup!” tidak peduli sudah se-yahud apa penampilan Mamah saat itu. Bayangkan cebokin anak dan Mamah pake dress yang lebar bawahnya 2 meteran, atau baju model bell sleeves. Biasanya saya terpaksa lepas semua baju dan berganti ke daster andalan. Bayangkan kalau outfitnya ada beberapa lapis dan jilbab di model macam-macam. Pakai - lepas - ulang lagi dari awal.
  • RAPI & BERSIH, agar tidak terlihat lusuh & kumal. Duh! 

Tapi yang jauh lebih penting lagi, ...

  • Wear whatever makes you happy

Ibu yang bahagia = keluarga bahagia
Karena Mamah adalah pusat emosi keluarga, maka seberapa senang hati Mamah berpengaruh pada kebahagiaan & kesuksesan anak-anak.
Bahagia itu relatif ya.. Ada yang senang hatinya kalo terlihat stylish dengan make-up flawless. Ada yang sudah senang asalkan anak senang, tak perduli bagaimana rupa Mamah. Ya sebahagianya Mamah aja kayak gimana 
Satu hal lagi yang bikin ku happy dan enjoy menjalani kelusuhan seorang Mamah ini:
These days shall pass!
Seperti yang sudah kujabarkan di atas, ku sudah mengalaminya jaman Si Kakak dulu. Believe me. Setelah anak usia 3 tahun, Mamah bisa lebih bebas dandan dan dress up.
Berbahagialah! 


Jadi, penampilan seperti apa yang jadi andalan Mamah? 

Baca Buku untuk Bayi — Gimana Caranya?

Baca Buku Untuk Bayi - Perlukah? Mungkin timbul anggapan bahwa bayi masih belum mengerti saat orang tua membacakan buku, karena mereka...