Rabu, 14 November 2018

LAKUKAN INI SEKARANG UNTUK MENCEGAH KECANDUAN GADGET PADA ANAK

cara mengatasi dan mencegah anak kecanduan gadget

SETAN KOTAK itu bernama GADGETS
Kayaknya emang bener gak sih, Mah? Elektronik berbentuk kotak itu sedikit banyak sudah membawa dampak jelek layaknya setan:
Anak-anak jadi kecanduan games. Mereka makin gampang terpapar konten mengerikan, macam video-video alay, pornografi, kekerasan.
Sementara kita orangtuanya juga ikut tersedot dalam posts di timeline dan stories FB dan IG yang tanpa akhir. Ah, belum lagi video di YouTube. Ah, belum lagi obrolan di grup WhatsApp. Gadgets tak pernah lepas dari genggaman.
Sehingga makin sedikit waktu untuk dinikmati bersama keluarga, bahkan untuk sekedar ngobrol santai.
Anak-anak jaman now adalah generasi digital native. Kata orang, "masih bayi udah bisa pegang HP". Ya itu karena mereka memang terlahir di jaman teknologi digital sudah berkembang pesat. Jadi tidak mungkin kita sepenuhnya menghindarkan mereka dari paparan teknologi. Yang bisa dilakukan adalah mencegah anak-anak kecanduan gadgets.
Lagipula, di sisi lain, gadgets punya dampak positif untuk anak-anak: mereka bisa akses materi untuk self-study (belajar mandiri) lewat aplikasi atau video; mereka bisa bersosialisasi dengan teman atau keluarga lewat telepon atau video call. Bahkan banyak murid saya dulu yang mengaku mendapat banyak kosakata Bahasa Inggris dari games yang mereka mainkan. Tapi ... 
Too much of anything is bad - Mark Twain
Itulah kenapa waktu yang anak-anak habiskan di depan layar (screen time) harus dikontrol agar mereka tidak kecanduan gadgets.

Kuncinya hanya satu: KONSISTEN
konsisten artinya: tetap (tidak berubah-ubah), taat asas, ajek

Orangtua yang tidak konsisten akan membuat anak bingung mana perilaku yang seharusnya mereka lakukan, sehingga akhirnya mereka stres karena orangtuanya plin-plan.
House rules / Family rules (peraturan di rumah / dalam keluarga) hukumnya wajib ada ya, Mah. Anak-anak harus dibiasakan hidup dalam tata tertib dimana pun, dimulai dari rumah, termasuk dalam hal menggunakan gadgets.

 "Bu, main tab.."
 "Loh, tadi kan adek sudah main"
 "Ah, enggak! Mau main tab lagiii!"

 "Mah, hape. Liat Youtube"
 "Wah, hape Mamah mati, dek. Maaf ya" (sengaja bohong supaya anak gak YouTube-an terus)
(5 menit kemudian, terlihat  bawa HP Papahnya)

 "Kak, TV-nya matikan ya. Kakak udah lihat TV lama dari tadi"
 "Iya, sebentar"
(30 menit kemudian,  masih di depan TV)

Kalau selama ini adegan-adegan di atas masih terjadi, hayuuk sekarang kita bikin aturan main gadgets bareng-bareng, Mah.

Nah, ini panduan membuat aturan pakai gadgets untuk anak:

1. Diskusikan dulu dengan pasangan

Sebelum membuat kesepakatan dengan anak, Mamah pastikan dulu bahwa peraturan yang akan Mamah terapkan sudah mendapat ACC dari Si Papah. Jadi Papah-Mamah harus satu suara ya kalau mau benar-benar menerapkan disiplin pada anak. Ini juga bagian dari konsistensi. Kalau tidak, anak bisa bingung dengan aturan mana yang harus diikuti dan malah akan banyak memberontak.

2. Ajak anak berdiskusi juga

Dengan mengikutsertakan anak dalam membuat keputusan, mereka akan lebih merasa dihargai dan percaya diri. Yang lebih penting, mereka akan lebih mandiri dalam memecahkan masalah, karena mereka tidak melulu menerima perintah orangtua. Dengan berdiskusi, mereka berlatih mengembangkan kreativitas dalam mencari solusi.
Untuk anak-anak yang lebih muda, tetap ajak mereka bicara. Mereka mengerti kok. Misalnya, "Wah, makannya sudah habis. Lihat videonya sudah ya, dek" 

3. Buat aturan tertulis

aturan pakai gadget untuk mencegah anak kecanduan gadget

Melihat fakta yang ditunjukkan diagram lingkaran pada infografik di atas, sudah jelas ya bahwa visual penting peranannya dalam proses belajar / memperoleh informasi.
Yang ku lakukan:
Aturan pakai gadgets yang sudah disepakati bersama ku jadikan poster. Poster ini aku tempel di sebelah TV supaya terus terlihat Si Kakak (anak pertamaku, 8 tahun) dan ku juga gampang mengingatkan. Misalnya, dia mulai nyaman tiduran di sofa lihat YouTube. Anak akan lebih banyak ingat sesuatu yang mereka dengar dan lihat secara bersamaan kan, jadi ku suruh dia lihat posternya sambil ku ingatkan, "Kakak, duduk. Ingat?" Lama kelamaan, terkadang malah ku tak usah pake ngomong, tinggal tunjuk poster 

Notes: Baca terus sampai habis ya, Mah. Nanti saya kasih posternya gratis tinggal unduh 

4. 5W + 2H

Dalam aturan pakai gadgets, Mamah harus sertakan poin-poin berikut:

What - Tentukan jenis gadgets apa yang boleh dipakai dan untuk apa.
Misalnya, hanya boleh pinjam HP Mamah untuk untuk main game, tidak untuk YouTube-an (karena sesungguhnya Mamah #miskinkuota #eeaa)

Where -  Tentukan dimana saja gadgets boleh/tidak boleh digunakan.
Misalnya, tidak boleh ada gadgets di kamar tidur untuk menghindari bahaya paparan radiasi.

When - Tentukan kapan saja gadgets boleh/tidak boleh digunakan.
Misalnya, tidak boleh asik sendiri dengan hapenya saat ada acara keluarga, atau tidak boleh nonton TV saat makan.

Who - Tentukan untuk siapa saja aturan ini berlaku.
Untuk mengatasi kecanduan gadgets pada anak, keluarga harus menciptakan lingkungan yang mendukung. Jika ingin membatasi waktu anak di depan layar, semua anggota keluarga baiknya juga bersama-sama ikut "diet gadgets". Anak belajar paling banyak dengan melihat. Maka jadilah teladan dengan berperilaku seperti yang Mamah ingin anak lakukan. Mamah ingin anaknya gak main game terus seharian? Mamah juga harus bisa berhenti swipe up, swipe left di Instagram terus (paling tidak, saat di depan anak. Pas anak lagi gak ada, lanjut stalking gapapa kali ya? hihi..)

Why - Anak perlu dan berhak tahu mengapa mereka tidak boleh berlama-lama pakai gadgets. Berikan penjelasan sesuai tingkat pemahaman anak. 
Misalnya, pada Si Kakak saya minta dia googling "akibat terlalu lama main gadgets". Hasilnya ada banyak artikel, video, bahkan gambar-gambar ngeri anak-anak korban radiasi HP. Dari situ saya pastikan dia tahu bahwa kami membuat aturan pakai gadgets ini karena kami benar-benar tidak ingin hal-hal buruk itu terjadi padanya. 

How - Tentukan bagaimana cara pakai gadgets yang diperbolehkan dan mana yang tidak.
Misalnya, tidak sambil tiduran, sound harus off saat main game.

How Long - Tentukan berapa lama maksimal pemakaian gadgets. Ada banyak pedoman yang bisa Mamah ikuti. Pastikan sumbernya credible ya.
Sebagai contoh, saya memakai rekomendasi Parentalk pada artikel yang bersumber dari "Buku Anti Panik Mengasuh Bayi 0 - 3 Tahun". Disebutkan bahwa anak seusia Si Kakak diperbolehkan menghadap layar maksimal 2 jam sehari.

5. Imbalan & Konsekuensi

Dalam menerapkan disiplin pada anak, sistem rewards (pemberian imbalan) dikenal lebih efektif dibandingkan punishment (pemberian hukuman). Salah satu cara mudah membatasi waktu anak menggunakan gadgets adalah dengan menjadikannya sesuatu yang harus "didapatkan" dengan usaha, jadi anak tidak begitu saja bebas nonton TV kapan pun dia mau.
Yang ku lakukan beberapa tahun lalu:
Setiap kali Si Kakak (3 - 4 tahun pada waktu itu) mau pinjam HP, dia harus muraja'ah (setor hafalan Qur'an). Imbalannya, biasanya 30 menit screen time.
Terserah Mamah mau anak-anak lakukan apa untuk bisa mendapat akses main gadgets: bereskan mainan, habiskan makan sayur, kerjakan soal persiapan ujian, ... apa saja.

PERHATIAN: Tetap perhatikan batas pemakaian yang disarankan sesuai usia anak.  

Anak juga harus mendapat konsekuensi kalau tidak sesuai aturan. Usahakan natural dan tidak dibuat-buat. Misalnya, karena dalam sehari maksimal pakai gadgets 2 jam, kalau Si Kakak terlalu lama nonton TV, jatah waktu main game-nya jadi makin sebentar.

Disini ku sertakan poster yang sudah ku buat dan sepakati bersama-sama. Nah, jatah waktu maksimal 2 jam ini ku bagi menjadi 30 menit (atau kelipatannya) sekali kesempatan. Artinya, Si Kakak pakai gadgets maksimal 4x dalam sehari.

Misalnya, 
30 menit nonton TV habis bangun tidur (maksudnya, biar dia lebih gampang melek, haha.. Siapa yang begini juga caranya biar anak bisa bangun pagi? )
60 menit main games bareng temen-temennya.
30 menit untuk googling sesuatu yang dia penasaran pengen tahu, tapi tidak bisa temukan di buku.

Di poster aturan pakai gadgets Si Kakak, ku gambar 4 kotak, dimana 1 kotak = 30 menit. Jadi, misalnya tadi pagi dia sudah nonton TV 30 menit, 1 kotak dicentang. Kalau semua kotak sudah dicentang artinya jatah screen time dia hari itu sudah habis. 
"Sori. Harus sabar tunggu sampai besok ya, Kak"

Barangkali Mamah mau buat aturan pakai gadgets yang sama, mungkin karena kita punya anak yang seumuran jadi jatah screen time-nya sama, Mamah bisa pakai template poster yang ku sediakan ini. Sengaja ku kosongkan bagian nama anak dan aturan do's and don'ts-nya supaya bisa disesuaikan dengan kebutuhan keluarga Mamah.
Tinggal isi nama dan e-mail, nanti langsung dikirim ke inbox Mamah. Free!

Selamat menikmati waktu berkualitas bersama anak.
Tanpa gadgets tentunya

8 komentar:

  1. waaaah mba, keren juga ini pake poster. aku bakal print deh, supaya anak2 makin inget. si adek bungsu sempet tuh kecanduan gadget. alhamdulillah skr udh normal lg, udh mau ngerti kalo gadget kelamaan ga bgs utk kesehatannya. salah satu cara yg aku lakuin wkt itu, ngajakin anak liburan dan staycation. yg sekitaran jakart aja staycationnya. cari yg ada pool. jd keinginan main gadgetnya teralihkan dgn berenang. walopun ujung2nya dia jd minta staycation dan berenang mulu hahhaha. gpp lah, at least kalo berenang lbh sehat kan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya memang anak2 sebenarnya lebih suka kalo diajak kegiatan fisik, secara tenaga mereka kayak gak ada habisnya, haha. Mudah2an bermanfaat ya printable nya. Bikin perjanjian di awal itu ngaruh banget sih ke anakku, dia jd lbh gak berontak kalo diingatkan.

      Hapus
  2. Keren mbak ada printablenya. Pasti bermanfaat buat para ortu. Anakku juga sempat kecanduan tapi berhenti sendiri setelah saya intensifkan hobinya yg lain.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, banyak anak bisa jatuh dalam lubang kecanduan gadget biasanya karena "dibiarkan", karena jujur memang kan membiarkan anak main gadget itu pilihan yang mudah buat kita orangtua. Tapi, oh, Marimar, konsekuensinya besaaar. Tahan, Marimar. Tahaaan..
      Boleh diprint, Mah, printable-nya. Mudah-mudahan bermanfaat :)

      Hapus
  3. Wah asik ada printablenya. Kadang memang anak melihat contoh paling dekat yaitu orang tua, itulah sebabnya kalau di rumah aku jarang pegang hp. Thanks for sharing ya mbak ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, printable ini aturan main yang aku pakai di rumah buat si Kakak, Mbak. Boleh di-print juga. Mudah-mudahan bermanfaat :)
      Kita mah pegang HP pokoknya jangan sampe kelihatan anak, Mbak, haha.

      Hapus
  4. Anakku yang usia 2 tahunan pun sempat kecanduan gadget Mbak, gara-gara akunya juga sih yang ngga nemenin dia main, Akhirnya aku insyaf dan meng-cut sama sekali akses dia ke gadget. Awalnya sempat tantrum satu minggu, tapi kemudian sembuh alhamdulillah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah.. Bisa ya di-cut sama sekali gadgetnya? Hebat.
      Baby Sha (2 tahun juga) masih suka tergoda kalo lihat ada gadget nyala, jadi sebisa mungkin aku sembunyikan semua gadget dari pandangan mata, haha..
      Mudah-mudahan kita orangtua bisa selalu konsisten dalam mendidik anak ya..

      Hapus

Baca Buku untuk Bayi — Gimana Caranya?

Baca Buku Untuk Bayi - Perlukah? Mungkin timbul anggapan bahwa bayi masih belum mengerti saat orang tua membacakan buku, karena mereka...