Langsung ke konten utama

4 Cara Bullet Journal Bisa Memudahkan Hidupmu Sebagai Ibu

Assalamualaikum..
Muna Fitria a.k.a Mamahfaza disini


Ingat masa-masa di sekolah dulu suka menulis di buku harian atau diary? Semua perasaan yang membuncah dalam hati remaja yang berapi-api di tumpahkan semua kedalamnya. Apa ada yang sampai sekarang masih suka?

Saya! Saya! (acungkan tangan)

Seiring berkembangnya jaman, diary atau buku harian yang kita kenal dulu telah berevolusi menjadi suatu sistem yang dinamakan bullet journal. Ryder Carroll, sang penggagas, mengklaim bahwa ini adalah sistem analog untuk menyimpan catatan masa lalu, mengatur hidup di masa sekarang, dan merencanakan masa depan. Selain itu, Buzzfeed menafsirkan bullet journal sebagai kombinasi buku agenda, buku harian (diary) dan daftar tugas yang harus dilakukan. Terdengar hebat, kan?


Pengertian bullet journal oleh Buzzfeed

Bullet journal akhir-akhir ini makin marak dibicarakan dan mulai menjadi tren hobi baru untuk ditekuni. Hype-nya pun sudah sampai ke Indonesia. Buktinya, di marketplace online, banyak dijumpai usaha percetakan yang memproduksi dan menjual buku tulis dengan lembar bertitik-titik sebagai ganti buku tulis dengan lembar bergaris. Ya, buku tulis dengan lembar bertitik-titik memang didesain khusus untuk bullet journaling. Namun sebenarnya bahkan sang penciptanya sendiri membebaskan memakai buku tulis model apa saja.

Menurut saya yang telah menjalani hobi bullet journaling selama dua tahun belakangan, ini adalah hobi yang cocok untuk para ibu, karena:

1. Bisa digunakan untuk terapi menulis

Perubahan hormon (seperti saat PMS atau hamil), banyaknya peran yang harus dijalani (misalnya, sebagai ibu+istri+wanita karir), atau masalah hidup sehari-hari tentunya dapat memicu stres. Biasanya itulah saat sesi curhat dengan orang-orang terdekat dibuka. Tapi terkadang ada hal-hal yang membuat enggan curhat. Kekhawatiran kalau-kalau masalahnya dibocorkan, atau ada perasaan malu untuk bercerita. Belum lagi kalau si pendengar curhat bukannya malah mengurangi beban pikiran, tapi makin menambah kebuntuan pikiran.

Sebagai gantinya, unek-unek yang menyesakkan dada bisa dituliskan dalam bullet journal. Kesumpekan hati yang ditumpahkan dalam bentuk tulisan bisa menjadi sarana terapi diri. Jadi seperti kembali pada konsep buku harian jaman sekolah dulu ya.. Saat menilik kembali catatan masa lalu itu, seakan diingatkan kembali jalan apa yang telah ditempuh untuk mencapai titik dimana kita berada sekarang, sehingga muncul rasa syukur, sudut pandang baru, atau bahkan solusi.


Fokus pada hal-hal baik yang terjadi setiap hari dan menuliskannya dalam jurnal bisa menjadi terapi untuk meningkatkan kebahagiaan. Photo credit: @_potato__life_

2. Banyak membantu tugas ibu yang multitasking

Otak kita sebenarnya tidak bisa mengingat banyak hal dalam waktu bersamaan. Ya, sebenarnya bisa, tapi otak jadi dipaksa bekerja lebih keras, sehingga tidak bisa membedakan mana yang harus dikerjakan saat itu, dan lambat laun akan menurunkan daya ingat.

Ibu multitasking, apa mau katakan hai pada pikun? Tentu tidak kan.

Bullet journal bisa banget membantu mengendurkan benang pikiran yang ruwet:
Ada acara ini tanggal sekian.
Nanti jam sekian jangan lupa telepon si A.
Waktunya bayar pajak kendaraan nanti bulan kesekian.
Harus ini, harus itu.

Semua bisa dicatat dengan terorganisir dalam bullet journal. Sistem yang biasa dipakai, seperti kode warna dan simbol, secara visual dapat membantu menata pikiran menjadi lebih sistematis: mana yang perlu diprioritaskan, mana yang perlu dipersiapkan lebih awal.

Bagaimana? Masih belum yakin bullet journaling bisa jadi hobi yang layak ditekuni karena faedahnya? Mau belajar dari pengalaman pribadi saya? 

Berikut saya tunjukkan 5 cara bullet journal bisa memudahkan hidup saya, dan kamu, sebagai ibu:

 

1. Jadwal Kegiatan

Seperti dipaparkan sebelumnya, memanfaatkan bullet journal untuk menyusun jadwal kegiatan dapat membantu menguraikan rumitnya pikiran. Karena bullet journal ini tidak pre-printed seperti buku agenda, kita bisa mendesain halamannya sesuai kebutuhan. Kita bisa membuat jadwal harian, mingguan, bulanan, tahunan, per caturwulan, per semester, atau tahunan.

Seperti saya, misalnya. Saya tidak perlu membuat jadwal harian, karena bagi saya, jadwal mingguan sudah mencakup cukup banyak detail terkait tugas-tugas yang harus dituntaskan.

Sementara jadwal bulanan hanya saya gunakan untuk mencatat events dan tanggal jatuh tempo; tidak untuk mencatat tugas.

Sistem kode warna dapat digunakan untuk menandai kelompok tugas yang sama. Kode warna saya, misalnya: biru untuk pekerjaan, hijau untuk anak sulung saya, emas untuk event, dan lainnya. Dengan begini, kita bisa memiliki gambaran yang jelas tentang kategori tugas apa saja yang kita punya, atau kegiatan apa yang harus diprioritaskan minggu/bulan ini.


Desain jadwal bulanan (separuh halaman sisi kiri) dan mingguan dengan sistem kode warna

2. Kenangan

Jangan hanya mengandalkan Facebook untuk mengingatkan kembali kenangan yang kita miliki di masa lalu. Bullet journal dapat digunakan untuk mencatat momen-momen berkesan yang terjadi dalam kurun waktu tertentu.

Disini saya membuat ilustrasi sederhana tentang beberapa momen yang terjadi selama sebulan, termasuk saat saya dan keluarga pergi berlibur ke Malang.


Contoh desain halaman bullet journal untuk merekam memori selama sebulan

3. Self-love dan Perawatan Diri

Terkadang kita sering melakukan hal di luar kaidah tanpa menyadari bahwa kita sedang memelihara kebiasaan buruk yang membawa dampak buruk pula. Sering tidur tanpa menghapus makeup, misalnya, dapat memicu bermacam infeksi dan bertumpuknya komedo.

Lalu bagaimana jika kita ingin mengubah kebiasaan?

Disebut habit tracker, desain halaman dalam bullet journal ini memungkinkan kita untuk memantau seberapa rutin kita melakukan kebiasaan yang ingin kita bangun. Perasaan puas melewati hari demi hari dengan melakukan kebiasaan baru dapat memotivasi kita untuk mencapai tujuan membangun kebiasaan baik.

Desain halaman habit tracker untuk membangun kebiasaan baik

Agar makin semangat, kita juga bisa menunjukkan rasa cinta pada diri sendiri dalam wujud hadiah setelah mencapai target tertentu. Seperti yang pernah saya lakukan, misalnya. Saya menghadiahkan sebuah microwave oven untuk diri saya setelah berhasil rutin menyiapkan sarapan sebanyak 30 kali. Hore!

4. Meal Plan (rencana makan)

Seberapa sering ibu bimbang di pagi hari dan bertanya-tanya, “Masak apa ya hari ini?” Ibu dapat menggunakan bullet journal untuk merencanakan makan keluarga lebih awal.

Di akhir pekan, ibu bisa duduk dengan bullet journal dan membuat rencana masak untuk seminggu ke depan. Saya pribadi merancang agar menu setiap harinya terdiri dari sayuran dengan lauk yang bervariasi.



Desain halaman perencanaan makan dan daftar belanja untuk seminggu.
@crafthippy via buzzfeed.com


Ibu juga bisa membuat koleksi acuan resep favorit keluarga di bullet journal untuk menghindari masak menu yang sama berulang-ulang dalam sebulan. Resep dapat disusun berdasarkan bahan dasar, jenis santapan, atau cara masak.


Desain halaman koleksi resep favorit keluarga

Bullet journal bisa dipertimbangkan sebagai hobi, karena banyak pelakunya yang mendedikasikan waktu khusus untuk melakukannya, menyisihkan uang untuk membeli perlengkapannya, belajar berbagai keahlian untuk menyempurnakannya; sama seperti pelaku hobi lainnya.

Saya yang baru menekuni hobi ini dua tahun belakangan merasakan banyak manfaat dari bullet journaling. Hari-hari lebih teratur, produktivitas meningkat, dan saat-saat menulis bisa menjadi me-time bagi saya karena terasa menenangkan setelah menuangkan isi kepala dan hati ke dalam tulisan. Dan saya ingin para ibu lain merasakannya juga.

Jadi, sudah siap memulai bullet journaling sebagai hobi baru?


Komentar

Maitra Tara mengatakan…
😭😭😭aku paling suka nulis diary, tp gak telaten bikin bullet journal. Lihat postingan2 kayaknya lucu gitu. Warna warni. Gambarnya unik2.
Muna Fitria Hidayat mengatakan…
Iya. Awalnya dulu saya juga merasa terintimidasi gitu.
Yang penting fungsinya sih, Mbak.
Sampai sekarang saya juga cuma bisa hiasan2 minimalis.
Paling gampang sih modal stiker sama washi tape; tinggal nempel2 doang.
Muyassaroh mengatakan…
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
Lasmicika mengatakan…
Baca ini sepertinya hobi saya akan bertambah. Dan saya kalau suka sesuatu pasti total nggak akan setengah-setengah.

Tapi tidak! Tahannnn... Sudah banyak sekali hobi saya:(
Muna Fitria Hidayat mengatakan…
Hahahaha..
Kebanyakan hobi, bingung mendanainya ya, Mbak?
Muna Fitria Hidayat mengatakan…
Wah. Iya, Mbak. Lebih lucuk lagi kalo berhias ilustrasi. Sayangnya saya gak pandai gambar.
Coba lah, Mbak. Sebulan dua bulan saja dulu :)
Awalnya saya pun begitu, lalu ketagihan. Haha..
Melissa Olivia mengatakan…
Aku juga lagi mulai belajar bullet journaling nih mba. Tp bujonya lebih kubuat ke arah blog planner supaya jgn sampe ada kerjaan yang kelewat heheh. Bikin bujo ini seru banget ternyatt krn bs jd stress reliever juga ya dgn bikin hias2 selain menulis. Cm ke depan krn mau anak 2, saya masih berpikir apakah akan mix dgn printable planner krn takutnya ga cukup waktu untuk sketch bujo 🤭
Muna Fitria Hidayat mengatakan…
Bener, Mbak. Ada efek stress relieving nya ya, Mbak, pas bikin spreads.
Sekarang pun saya pakai beberapa printable yang cocok dengan kebutuhan saya, Mbak. Seperti habit tracker. Makan waktu kan bikinnya banyak kolom. Haha.
Elsa Hayanin Lubis mengatakan…
Yaampun mbak lucu bgt. Brb pengen bikin buat mingguan hihi
Muna Fitria Hidayat mengatakan…
Langsung cuuus, Mah! ��

Popular Posts

Les Coding Anak Tidak Susah Kok; Ini Pengalaman Anakku Ikut Kelas Hacktivkidz

Assalamualaikum Muna Fitria a.k.a @mamahfaza disini.  Alasan mendasar pengin mendaftarkan les coding anak buat Si Kakak, anak pertamaku, adalah karena gampang-gampang susah loh memilih aktivitas buat anak usia 11 tahun.  Aku pengin mencari kegiatan yang bisa jadi hobi dan kesibukan dia agar waktunya produktif, yang sesuai dengan minatnya, yang menantang, dan sekaligus yang bisa digunakan untuk mengasah keterampilan untuk karir di masa depan. Setelah selidik sana-sini, membandingkan ini-itu, dan musyawarah dengan Si Papah, alhamdulillah kami memutuskan bahwa kegiatan yang memenuhi semua kriteria di atas adalah BELAJAR CODING . "Hah? Coding ? Itu yang untuk membuat program komputer sama aplikasi hape itu kan? Belajar coding untuk anak apa engga terlalu susah?" I know.. I know..  Awalnya aku juga mikir gitu. Tapi setelah nyoba belajar di sekolah coding anak Hacktivkidz, kekhawatiran itu terpatahkan. Hacktivkidz by Hacktiv8 Hacktiv8 adalah lembaga pendidikan yang memberikan p

Checklist Isi Tas Persiapan Melahirkan Caesar di Rumah Sakit

Assalamualaikum.. Muna Fitria a.k.a @mamahfaza disini.. Minggu ini, kehamilanku memasuki minggu ke-37. Sebenarnya HPL Baby No.3 ini masih sekitar pertengahan Januari. Tapi karena dia harus dilahirkan secara Caesar, maka operasi dijadwalkan 2 minggu lagi. Sambil menunggu hari-H, jangan sampai lupa, Mah! Ada satu hal penting yang harus dipersiapkan menjelang persalinan, yaitu mengepak tas untuk dibawa saat melahirkan ke rumah sakit. Pastinya kita tidak mau ada yang tertinggal saat menginap di rumah sakit kan. Sebaiknya isi tas persiapan melahirkan ini sudah dipersiapkan sekitar 2 minggu sebelum HPL, just in case si janin lahir lebih awal dari tanggal perkiraan. Saat melahirkan Caesar biasanya dibutuhkan waktu sekitar 3-4 hari untuk tinggal di rumah sakit . Mamah harus  check-in sehari sebelum operasi untuk berbagai pemeriksaan laboratorium dan konsultasi dengan dokter anestesi. Umumnya Mamah sudah diperbolehkan pulang sehari setelah operasi , kecuali ada kondisi yang meng

Kombinasi Nutrisi & Kandungan Serum Pencerah Wajah Terbaik untuk Usia 20-an

Assalamualaikum Muna Fitria a.k.a @mamahfaza disini Serum pencerah wajah terbaik bukan yang memutihkan ya! Mindset kita rasanya sudah lama 'diracuni' dengan standar kecantikan yang salah kaprah. 'Memiliki wajah berkulit putih' selalu yang digaungkan menjadi tujuan dalam rangkaian perawatan kulit wajah. Tidak jarang juga model iklan yang terpampang adalah bule atau eonni Korea dengan karakteristik kulit yang jauh berbeda dengan kulit kita. Padahal penduduk Indonesia kan termasuk dalam ras Malayan Mongoloid yang memiliki ciri khas warna kulit sawo matang. Pola pikir inilah yang perlu diubah mulai sekarang. Standar kecantikan wanita Indonesia seharusnya bukanlah yang berkulit putih. Meskipun dengan warna kulit agak kecokelatan, wanita Indonesia bisa tetap tampil cantik dengan kulit wajah cerah dan tidak kusam. Mindset  lain yang perlu diperbaiki adalah pentingnya asupan nutrisi untuk melengkapi perawatan kulit. Tidak cukup dengan produk perawatan wajah, pola makan, gaya