Sabtu, 26 Januari 2019

5 CARA MUDAH UNTUK MENGURANGI SAMPAH DAN MEMULAI HIDUP ZERO WASTE DI INDONESIA (PART 1)


PERTEMUAN PERTAMA DENGAN ZERO WASTE INDONESIA


Awalnya dimulai dari saya mengikuti (baca: coba-coba ikutan) kampanye Plastic Free July di tahun 2018. Saya akhirnya terhubung secara digital dengan beberapa pejuang gerakan minim sampah di Indonesia, seperti Zero Waste Indonesia, Sustaination, DK Wardhani, dan lainnya lewat beberapa hashtags berbau zero waste yang saya gunakan saat posting di Instagram.

W.O.W. Bulan itu benar-benar mengubah hidup saya. Selama ini saya terlalu skeptikal. Saya beranggapan bahwa orang-orang disini bakalan susah diajak hidup minim sampah begini. Lha wong disuruh antri yang rapi aja gak bisa #eh Tapi ternyata banyak juga pihak perorangan, komunitas, atau korporasi yang memperjuangkan terwujudnya hidup zero waste di Indonesia.

Jika sebelumnya tidak banyak yang bisa saya lakukan untuk lingkungan selain menolak kantong plastik saat berbelanja, sekarang dengan lebih banyaknya referensi yang lebih relatable karena bersumber dari negeri sendiri, lebih banyak aksi ramah lingkungan yang bisa saya lakukan (dan mudah-mudahan bisa menjadi kebiasaan dan gaya hidup).



CARA MUDAH MEMULAI HIDUP ZERO WASTE


Apa cuma saya yang merasa kewalahan setelah membaca banyaknya referensi dan rekomendasi tentang zero waste di Indonesia? Ibarat ibu-ibu suka nyimpen resep macem-macem tapi gak ada yang pernah dipraktekkan #eeaa Makin saya baca, makin banyak posting Instagram yang saya simpan, makin saya merasa beraaat mau menjalankannya. Ibarat memori RAM sudah overload gegara kebanyakan install aplikasi, hape jadi nge-hang. Begitulah gawatnya kalo merasa kewalahan; malah enggan berbuat apa-apa sama sekali.

Untuk mengatasinya, saya harus memilah informasi yang masuk. Di antara semua aksi ramah lingkungan yang disarankan berbagai sumber, saya pilih yang sekiranya bisa langsung saya lakukan dengan usaha minimal  Nah, berikut beberapa aksi mudah yang selama ini sedang saya coba lakukan secara rutin.


1. Bawa Tas Belanjaan Sendiri


Sebenarnya ini sudah saya lakukan selama bertahun-tahun. I'm a tote bag type of woman, jadi kalau sekedar beli apa di minimarket saja sih langsung saya masukkan dalam tas, tanpa kantong plastik.
Untuk mengurangi konsumsi kantong plastik dan energi, saya berhenti berbelanja bulanan dalam jumlah besar ke supermarket. Biasanya bawa pulang barang belanjaan paling sedikit lima kantong plastik besar. Terlalu banyak barang, tidak cukup banyak reusable shopping bags yang saya punya. (Sebenarnya kan saya tinggal beli lagi ya? ) Eh, tapi selain itu, saya harus selalu naik taxi untuk bisa mengangkut belanjaan sebanyak itu.
Sekarang saya lebih memilih berbelanja ke minimarket di dekat rumah. Saya jadi hemat biaya transportasi karena kesana hanya perlu berjalan kaki.
Saya tidak lagi menyampah banyak kantong plastik; hanya perlu berbekal satu tas kain untuk membawa barang belanjaan secukupnya.
Saya tidak perlu meyisihkan waktu khusus untuk belanja di mall; kapanpun Si Batita pengen jalan-jalan di luar rumah, saya ajak ke minimarket. Jadi sekarang belanja bulanannya dicicil gitu lah ya, haha..

TIPS:
Siapkan masing-masing satu tas belanja (atau mungkin lebih) di setiap tas yang biasanya kita pakai: tas kerja, tas jalan-jalan.. Siapkan juga di motor atau mobil. Jadi, tidak ada lagi momen "Aduh.. Tas kainnya ketinggalan di rumah, tadi gak kebawa" (dan lalu akhirnya pulang dengan sampah kantong plastik )


2. Bawa Wadah Sendiri Saat Belanja Ke Pasar


Dengan modal sekitar Rp50.000-an, saya sudah punya bekal peralatan yang cukup: 1 set wadah makanan berbagai ukuran untuk bisa bawa wadah sendiri ke pasar.
Belanja di pasar itu bisa jadi sumber sampah plastik loh. Bayangin aja, tiap pedagang bungkus belanjaan kita pake kantong plastik. Berapa pedagang yang kita datengin? Berapa sampah plastik yang kita hasilkan?
Cuma dipake berapa menit doang tapi sampahnya awet menghantui dan merusak sampe ratusan tahun.
Dengan bawa wadah sendiri ke pasar, paling tidak saya bisa menghindari sampah plastik untuk bahan makanan seperti ayam, daging, ikan, tahu, beras, sayuran, bawang, telur, buah, ...
Untuk bahan makanan yang sudah pre-packaged (dibungkus dari pabrik) seperti tepung, merica, sosis, ... yah mau dihindari gimana lagi? Kalau ada yang tidak dalam kemasan sih sudah pasti saya beli.

TIPS:
Sebelum ke pasar, biasanya kita bikin daftar belanjaan dulu kan ya, Mah.. Nah, dari daftar belanjaan ini, kita bisa tahu wadah apa saja yang perlu dibawa.


3. Gunakan Reusable Straw / sedotan yang dapat dipakai ulang


Bahannya bervariasi: ada yang dari stainless steel, bambu, kaca. Harganya juga bervariasi, biasanya mulai dari belasan ribu sampai tiga puluhan ribu rupiah.
Saya punya 3 stainless straws kecil dan 1 stainless straws besar buat nyedot Es Cao, Bubble Tea, dan kroni-kroninya 😁
Sedotan stainless saya yang pertama adalah hadiah giveaway dari Mbak @nofifadila Thanks for the encouragement from your constant act of minimizing waste, Mbak.
Stainless straw besar ini saya beli di Ekko Store, harganya Rp35000.
Stainless straw yang kecil saya beli di Alang-Alang Zero Waste Shop, harganya belasan ribu rupiah.
Stainless steel straw brush juga saya beli di Alang-Alang, harganya di bawah Rp5000

TIPS: 
Siapkan 1 wadah khusus. Dalam wadah saya ini isinya seperangkat stainless straws & sendok garpu. Ini wajib bawa banget kalo pas jalan-jalan ke mall, atau pas dine out, karena di food court, misalnya, seringnya pake peralatan makan yang dari plastik kan ya?!
Nah nanti pas order jangan lupa bilang, "Gak usah pake sedotan yah.. Gak usah sendok garpu juga." *senyum*


4. Ganti Sikat Gigi dengan Sikat Gigi Bambu

Serius ini rugi banget kalo gak dilakukan, karena harga sikat gigi bambu hampir sama dengan sikat gigi plastik yang dijual di pasaran. Bahkan bisa lebih murah dari merek tertentu. Untungnya gigi saya bukan gigi sensitif, jadi ya oke saja pakai sikat gigi bambu ini.
Saya beli sikat gigi bambu ini di Ekko Store dan Alang-Alang Zero waste Shop, harganya sekitar Rp19000. Yang kecil harganya cuma Rp1000 - Rp2000 lebih murah. 
Dari pengalaman sih, bulu sikatnya mulai rusak baru setelah pemakaian 5 bulan. Tapi untuk pertimbangan hygiene, secara kita biasanya taruh sikat gigi di dalam satu ruangan sama toilet kan ya, sikat gigi baiknya diganti per 3 - 4 bulan.


5. Ganti Tisu dengan Kain yang Dapat Dipakai Ulang 


Tahu kan kalo tisu asalnya dari pohon, sama seperti kertas? Jadi sayang dong hutan yang menyediakan oksigen untuk kita bernapas ditebang cuma untuk dibuang sekali pakai? 
Menurut survei WWF IndonesiaXHakuhudo, masyarakat Indonesia di kota besar rata-rata menggunakan 3 lembar tisu untuk mengeringkan tangan saja, belum untuk yang lainnya.
Saat "masih khilaf" dulu, tiap bulan saya bisa menghabiskan 3 pak tisu ukuran besar, ditambah 2 pak tisu ukuran kecil untuk dibawa dalam tas, ditambah lagi tisu basah. Ah! Udahlah. Kebayang ya tumpukan sampahnya kek gimana.

TIPS:
Untuk pengganti tisu di rumah, saya daur ulang selimut bayi jaman si Kakak dulu. Satu kain selimut dipotong jadi 16, lalu tiap potongan dineci sisi kelilingnya.
Sebagai pengganti tisu untuk saya bawa dalam tas, saya pakai Reusable Cloth dari Alang-Alang. Produk ini jenius banget, serius! Packaging-nya persis sama kayak tissue travel pack, plus di bagian belakang ada kantong untuk kain yang habis dipakai. So handy. Harganya Rp50000 isi 10 lembar. 


Disclaimer:
Saya bukan pakar zero waste. Kita sama kok: sama-sama sedang belajar dan berjuang merubah gaya hidup menjadi lebih sustainable dengan menghasilkan minim sampah.
Tulisan ini adalah pemahaman saya terhadap banyak informasi yang saya dapatkan dan pelajari dari buku, beberapa website resmi gerakan zero waste, dan posting media sosial para pejuang zero waste. Pemahaman inilah, dengan bahasa dan pola pikir yang bisa saya cerna, yang saya tanamkan dalam diri saya, yang saya jadikan pegangan dalam berperilaku lebih ramah lingkungan.
Cara-cara yang saya tuliskan di atas adalah yang selama ini saya lakukan di awal perjalanan hidup minim sampah saya ini.

Jadi, sudah siap memulai hidup minim sampah? Sebelum terlambat loh..

4 komentar:

  1. Sediiihhh, belum ada satupun yang bisa konsisten saya jalankan.
    Saya sering banget bawa tas belanjaan saat hendak belanja, trus sampai di tujuan ketinggalan dong, lalu ujung-ujungnya pakai tas kresek huhuhu

    Bawa wadah ke pasar? hiks yang sering ke pasar malah pak su, pakai sedotan? belum juga jadi beli ckckck.

    Tapi bersyukur udah banyak banget yang bahas ini, jadi lebih sering ingat dan semoga bisa mngurangi sedikit sampah :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beli, Mbak Rey, pas waktunya belanja bulanan. Hahahaha.. Di Surabaya udah ada zero waste shop loh.

      Hapus
  2. Aku sudah ngelakuin semuanya kecuali yang sikat gigi nih!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beli, Mbak, haha.. Harganya gak jauh beda sama beberapa merek sikat gigi plastik yang dijual di pasaran kok.
      Aku gak punya komposter sendiri. Jadi bekasnya, maksudnya yang udah rusak kepake, aku masukin ke komposter yang ada di taman2 deket rumah.

      Hapus

Baca Buku untuk Bayi — Gimana Caranya?

Baca Buku Untuk Bayi - Perlukah? Mungkin timbul anggapan bahwa bayi masih belum mengerti saat orang tua membacakan buku, karena mereka...