Langsung ke konten utama

Hati-Hati. Kita Sering Terjebak Dalam 3 Pola Pikir Negatif Ini Tanpa Sadar

Assalamualaikum..
Muna Fitria a.k.a. @mamahfaza disini.

blog banner artikel mengenai 3 pola pikir negatif penyebab tidak bahagia

Pasti pernah ya merasa hidup kita gini-gini aja: "Kenapa sih aku kok gak pernah bisa berubah?"
Atau merasa ada yang kuraaang gitu, padahal followers IG nambah terus dan banyak rejeki dari jobs yang banyak berdatangan.

Ternyata itu semua berawal dari pola pikir (mindset atau thought patterns) kita. Pola pikir yang sudah lama kita miliki, yang kita anggap biasa saja, yang sering muncul, ternyata bisa merugikan. Pola pikir negatif ini membuat kita jadi cemas, takut yang berlebihan, suka ragu-ragu, tidak percaya diri, dan ... yah, intinya membuat kita merasa buruk lah.

Berikut beberapa pola pikir negatif yang kita miliki tapi tanpa sadar bisa membuat kita terjebak dalam ketidakbahagiaan:

 Awal yang Baru

Kita selalu menilai bahwa ada waktu ideal untuk memulai awal yang baru: tahun baru, hari Senin, pagi hari, atau lainnya.

"Waduh. Hari ini aku kesiangan. Sayang banget, padahal rencana mau olahraga pagi-pagi. Besok deh pasti bisa bangun pagi." Keesokan harinya, terjadi hal yang sama dan terulang lagi di hari berikutnya.

Pada hari Kamis: "Argh! Anak-anak di rumah diajak main apa lagi nih? Udah kehabisan ide. Oke deh. Mulai minggu depan aku siapkan printables aja lah yang banyak buat seminggu. Sekarang biarin deh nonton TV aja asal anteng."

Begitulah yang sering ku alami. Waktu sudah berlalu dan aku belum mulai melakukan apa pun, karena aku (dan mungkin kamu juga) berpikir butuh waktu yang tepat untuk memulai sesuatu. Masalahnya, besok pagi atau minggu depan pasti akan ada alasan lagi yang membuat kita menunda sampai besoknya lagi atau minggu depannya lagi. Terus aja begitu sampek Mister Krab jadi dermawan.

via GIPHY

Kenapa harus di awal hari? Padahal kan olahraga kapan saja bisa, tidak harus saat anak-anak masih tidur di pagi hari. Olahraga dengan anak-anak malah lebih bagus. Mereka jadi ada aktivitas fisik yang bisa mendukung kesehatan dan kecerdasan mereka.

Kenapa harus di awal minggu? Padahal tidak perlu menunggu hari Senin untuk menyiapkan printables atau mencari ide bermain lain untuk anak-anak. Kan tinggal googling. Di rumah juga ada printer. Jasa printing dekat rumah juga banyak.

Pola pikir negatif ini jelas bisa menjebak kita dalam lubang hitam bernama procrastination alias menunda-menunda. Yang tidak kita sadari adalah: dengan menunda melakukan hal baik yang bisa kita lakukan sekarang, kita juga menunda kebahagiaan kita. Harusnya sekarang kita bisa merasa produktif karena kita bisa menyelesaikan banyak pekerjaan sehingga urusan jadi beres. Harusnya sekarang kita bisa merasa percaya diri karena kita bisa selangkah lebih dekat menuju target. Eh, malah kita tunda sampai waktu yang tidak ditentukan.

Kita sendiri yang bisa menentukan kapan akan memulai sesuatu. Mengapa harus menunda besok jika bisa dilakukan sekarang? Lakukan sekarang, karena hanya saat ini yang kita punya. Hari esok belum tentu datang.

 Menunggu Babak Baru dalam Hidup

"Nanti kalau udah punya rumah sendiri, udah enggak tinggal sama mertua lagi, aku pasti bisa lebih bebas dan enggak stres kayak sekarang"

Pola pikir negatif ini membuat kita percaya bahwa saat kita "memulai babak baru" dalam hidup, hal-hal baik lainnya akan mengikuti dengan sendirinya, dan saat itulah kita baru "memulai hidup".

Hampir sama sih dengan sebelumnya, pola pikir negatif ini juga membuat kebahagiaan kita tertunda. Kita jadi beranggapan bahwa kondisi kita saat ini tidak cukup bagus untuk hidup senang sesuai harapan.

Kita sendiri yang memegang kendali penuh untuk live in the moment. Kita bisa loh memilih untuk menikmati hidup saat ini juga. Tapi jika kita percaya bahwa ada fase dalam hidup dimana kita memulai "hidup yang sesungguhnya", kita jadi seakan memilih untuk tidak menikmati hidup saat ini. Pola pikir negatif ini membuat kita merasa bahwa kita sekarang tidak layak untuk hidup bahagia.

Kaum jomblo nih yang sering jadi korban kayaknya. Mereka sering disudutkan oleh opini dan komentar publik yang menggiring pola pikir negatif bahwa seakan hidup bahagia tuh dimulai setelah menikah. Yah memang sih kalau sudah menikah bisa hidup bahagia dengan pasangan, tapi bukan berarti saat masih single tidak bisa bahagia kan?!

via GIPHY

Tidak perlu menunggu babak baru dalam hidup untuk mulai hidup bahagia. Kehidupan setelah menikah, atau babak baru lainnya, tidak selalu menjanjikan kebahagiaan. Hidup terus berubah, naik turun. Hal-hal baik terjadi, begitu juga hal-hal buruk. Inilah hidup kita saat ini. Jalani. Syukuri. Nikmati.

 Mencari Pembuktian dari Orang Lain

"Ah! Akhirnya bisa juga nonton konser musisi favorit. Momen berharga nih. Harus di-posting di Instagram." Lalu berkali-kali fokus beralih pada kamera atau HP untuk memastikan sudah mendapat foto yang bagus. Udah posting foto HD dan caption seyahud mungkin, eh hati terpotek karena ternyata jumlah like dan komen tidak sebanyak yang kita harapkan. Pernah enggak nih mengalami yang kayak gini?

Bukan. Bukannya kita tidak boleh mengabadikan momen. Masalahnya adalah saat kita menarik diri dari menikmati sebuah momen karena terlalu memikirkan bagaimana kita akan menceritakannya pada orang lain. Daripada menjadi diri sendiri dan menjalani hidup, kita malah sibuk menyusun cerita tentang kita untuk orang lain. Apalagi jika mood kita dipengaruhi oleh reaksi mereka. Nah. Pola pikir negatif seperti ini yang jadi masalah.

via GIPHY

Jujur ku akui. Momen seperti ini sering aku alami terutama saat membuat konten video. Terlalu asyik menyusun narasi yang bagus untuk diceritakan pada followersaku malah jadi tidak fokus membersamai anak-anak belajar.  Perhatianku jadi bukan pada anak-anak yang hadir bersamaku pada saat itu, tapi pada "penonton" yang entah dimana dan bukan "bagian dari hidupku". Tujuanku membuat konten video adalah ingin menceritakan bagaimana aku bermain sambil belajar bersama anak-anakku, tapi yang sebenarnya terjadi di balik layar adalah anak-anak tidak menikmati kegiatan bermain sama sekali karena berulang kali aku minta retake. Ironis kan?

Tidak hanya dari followers dan netijen yang budiman dari media sosial, pembuktian ini bisa juga kita harapkan datang dari bos, rekan kerja, orangtua, saudara, pacar, suami. teman, atau tetangga. Tanpa kita sadari, kita menjalani hidup untuk penilaian dari mereka. Segala usaha yang kita lakukan adalah untuk memenuhi harapan atau mendapat persetujuan mereka. Jadi yang gaya hidupnya (terpaksa) jadi mahal karena menyesuaikan dengan "level" teman-teman juga termasuk nih ya.

Agar terlepas dari pola pikir negatif yang membuat kita tidak bisa menikmati momen yang ada di hadapan kita, hayuk mulai sekarang kita sama-sama belajar untuk tidak menjadi performer di depan penonton. Saat ngopi dengan teman-teman, ya nikmati momen kebersamaannya. Tidak perlu sibuk membuktikan bahwa kita juga tidak kalah sukses dari mereka. Saat niat ingin berbagi ilmu dan menyebarkan manfaat lewat sosial media atau blog, ya bagikan saja tanpa harus terus-terusan menghitung sudah berapa likes atau views yang didapat.

Semangat mengubah pola pikir negatif ini yah! 

infografis 3 pola pikir negatif penyebab tidak bahagia

Source:
Goodful's "Detox Your Thoughts" Newsletter developed by Dr. Andrea Bonior, a licensed clinical psychologist.

Komentar

  1. intinya gak boleh menunggu ya harus gerak kitanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener. Kalo menunggu waktu yang sempurna, bisa enggak kejadian beneran.

      Hapus
  2. hallo .. tulisannya ngena banget nih ...
    be presence and do it now, kalau bisa dilakukan hari ini, kenapa nunggu besok yang mungkin datang.
    suka ... lope lope

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo.
      Iya nih self reminder juga. Karena kadang kita suka terlena dengan buaian dunia digital.
      Saat harus melakukan / berhadapan dengan sesuatu yang bikin kita gak nyaman sedikit aja, langsung escape kesana.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Checklist Isi Tas Persiapan Melahirkan Caesar di Rumah Sakit

Assalamualaikum.. Muna Fitria a.k.a @mamahfaza disini..

Minggu ini, kehamilanku memasuki minggu ke-37. Sebenarnya HPL (Hari Perkiraan Lahir) Baby No.3 ini masih sekitar pertengahan Januari. Tapi karena dia harus dilahirkan secara Caesar - karena sebelumnya saya sudah melahirkan melalui bedah Caesar sebanyak dua kali - maka operasi dijadwalkan 2 minggu lagi.
Semua Mamah pasti setuju, begitu masuk bulan ke-8 kehamilan, badan mulai terasa tidak nyaman (lagi). Ukuran badan sudah menjadi berkali lipat, termasuk perut yang makin besar menyesuaikan berat si janin yang sudah 2 kiloan. Apalagi kalau si janin sudah masuk panggul, ... *tarik nafas dalam *hembuskan Rasanya makin tidak sabar menunggu hari kelahiran tiba.

Sambil menunggu hari-H, ada beberapa hal yang bisa Mamah lakukan untuk 'membunuh waktu'; melupakan segala ketidaknyamanan dan menggantikannya dengan kesenangan. Bisa dengan berbelanja kebutuhan bayi(siapa yang tidak riang hatinya saat shopping?), mendekorasi atau menata u…

CARA MEMBUAT BULLET JOURNAL UNTUK PEMULA: MONTHLY LOG

Assalamualaikum..
Muna Fitria a.k.a @mamahfaza disini..

Masih dalam rangkaian Tutorial Bullet Journal untuk Pemula, setelah Future Log dan Habit Tracker, sekarang ku akan berikan step-by-step cara membuat Monthly Log.
Mumpung masih semangat tahun baru, moga-moga masih semangat bikin bullet journal juga yaaah.
Let's get it! MONTHLY LOG ADALAH ... Monthly Log jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti "Catatan Bulanan". Jadi Monthly Log adalah catatan jadwal acara, peristiwa, atau rencana kegiatan dalam sebulan. Awalnya memang begitu, tapi bukan Bullet Journal namanya kalau tidak bisa disesuaikan dengan kebutuhan pemakainya. Kita bisa menambahkan fitur apapun yang kita butuhkan ke dalam Monthly Log. Misalnya, mau sekalian digabungkan dengan Habit Tracker atau mau menambahkan target bulan ini yang harus dicapai. Boleeeh.. Custom made ajah..

Baca juga: Cara Membuat Bullet Journal untuk Pemula: Habit Tracker MONTHLY LOG DI BULLET JOURNAL BISA DIGUNAKAN UNTUK APA? Be…

Memilih Krim Sretch Mark Aman Untuk Ibu Hamil | Review Mama's Choice Sretch Mark Cream

Assalamualaikum.. Muna Fitria a.k.a @mamahfaza disini..

"Gatel itu emang paling enak kalo digaruk"

Bener gak nih, Mah? Tapi kalau menggaruk perut yang gatal saat hamil, wah, bisa bahaya. Ketika hamil, kulit akan meregang bersamaan dengan makin besarnya ukuran perut. Ini menyebabkan robekan pada lapisan bawah kulit, lalu timbul garis-garis warna merah atau cokelat. Kalau Mamah garuk, rasa gatalnya bisa makin menjadi, lalu bisa muncul stretch mark.
Di saat seperti inilah krim stretch mark datang sebagai penyelamat.
MAMA'S CHOICE Coba Mamah google "stretch mark cream". Hasilnya? Foto produk Mama's Choice Stretch Mark Cream seperti di atas yang langsung muncul. Penasaran dong kenapa produk ini bisa tampil di hasil pencarian teratas Google, lalu ku cobalah Mama's Choice Stretch Mark Cream ini.
Mama's Choice fokus menyediakan produk aman untuk ibu dan bayi. Setiap produk dibuat dengan bahan natural yang terpercaya, halal, bebas toksin, dan tanpa bahan ki…