Langsung ke konten utama

Kisah Sukses Mengajari Anak Bersepeda dengan Balance Bike

Assalamualaikum.
Muna Fitria a.k.a @mamahfaza disini.

mengajari anak bersepeda dengan balance bike

Sejak pertengahan tahun lalu, balance bike sepertinya sedang naik daun di Indonesia. Terbukti dengan naiknya jumlah pencarian Google dengan kata kunci tersebut, dan banyaknya kenalan dunia maya yang menawarkannya di Instagram dan Whatsapp.

Banyak yang menyatakan bahwa balance bike adalah cara cepat mengajari anak bersepeda. Benar begitu? Sha (4 tahun) sudah mulai pakai sejak usia 2 tahun. Terus bagaimana hasilnya? Yuk, Mah! Baca terooos sampai akhir, wkwkwk.

Apa itu Balance Bike?

Balance bike pada dasarnya adalah sepeda tanpa pedal, tanpa rantai, dan tanpa rem. Jadi benar-benar hanya dua roda, rangka sepeda, serta sadel. Cara mengendarainya adalah dengan mengandalkan gaya dorong dari kaki anak. Begitu juga untuk mengerem / menghentikan balance bike, anak harus menggunakan kakinya. 

Tapi ada juga kok balance bike model lain. Beberapa waktu lalu, aku menjumpai banyak iklan pre-order balance bike model 3-in-1 berseliweran. Dari bentuk awal dengan dua roda, balance bike hybrid ini bisa dirubah menjadi roda tiga dengan membentangkan roda belakang, dan dilengkapi dengan pedal di roda depan. Harganya pun murah-murah: mulai dari Rp 300.000 udah dapet, jeeeng.

Balance Bike untuk anak usia berapa?

Saat awal belajar mengendarai balance bike, anak seperti sedang berjalan dengan membawa sepeda diantara dua kakinya. Karena itulah kiranya balance bike bisa digunakan mulai usia 18 bulan, atau saat anak sudah lancar berjalan. Umumnya balance bike hanya tersedia dalam satu ukuran, jadi mungkin hanya dapat digunakan hingga anak usia 5 tahun. Lebih dari itu, rasanya mengajari anak bersepeda dengan balance bike akan kurang efektif, karena badan anak sudah jauh lebih besar dan tinggi dibandingkan balance bike-nya.

Namun misalnya usia anak Mamah sudah lebih dari 5 tahun, Mamah masih bisa kok mengajari anak bersepeda dengan konsep balance bike. Caranya: copot saja pedal dan rantai sepeda ukuran 14" biasa. Jadilah balance bike. Hehe.

Apa gunanya Balance Bike?

Anak bersepeda mengandalkan keseimbangan. That's the basic skill. Kemampuan dasar yang harus dikuasai untuk bisa mengendarai sepeda adalah menyeimbangkan diri di atas roda dua. Nah, jadi anak belajar ini dulu dengan balance bike, baru kemudian bisa dengan mudah belajar mengayuh dengan sepeda biasa. 

Anggaplah anak sudah pandai bersepeda roda 4 menggunakan roda bantu (training wheels). Sudah piawai mengayuh, bisa jalan ngebut, ambil haluan kanan kiri putar balik juga sudah lihai.

Lalu saat roda bantu dilepas, apa yang akan terjadi? Apa mereka langsung bisa mengendarai sepeda roda 2? Tidak. Anak masih harus belajar menyeimbangkan diri supaya tidak jatuh. 

Artinya, kemampuan anak untuk mengayuh, berbelok, dan lain-lain tadi sementara harus dikesampingkan (unlearn). Anak harus kembali ke awal: learn the basic skill, yaitu keseimbangan.

Review Balance Bike

Balance bike punya Sha merknya Maynine. Suamiku beli tahun 2019; jaman balance bike masih belum terdengar gaungnya. Harganya berkisar antara Rp700.000 - Rp1.200.000I know. Mahal, right? Aku lupa harganya berapa. Yang pasti, aku inget dulu aku kaget karena harganya bisa hampir sejuta, wkwkwk.

mengajari anak bersepeda dengan balance bike

Setang dan sadelnya adjustable, bisa disesuaikan tingginya. Bannya terbuat dari busa padat yang tidak akan bisa kempes. Karena tidak ada udara di dalamnya, foam tires (ban yang terbuat dari busa) tidak bisa meredam efek benturan. Jika balance bike melewati medan bergelombang, ya pasti akan terasa jendolannya; tidak shock absorbent. Tapi kalau hanya untuk berkendara di jalan aspal atau berpaving, ban model ini sudah cukup mumpuni. 

Balance bike ini ringan sekali. Yang tertulis di website-nya sih beratnya 5kg. Tapi menurutku enggak sampai segitu ah, karena Sha saja bisa angkat dengan mudah.

mengajari anak bersepeda dengan balance bike

Kisah Sukses Sha Belajar Bersepeda

Sha mulai dikenalkan pada balance bike sejak usia 2 tahunan. Tentu saja awalnya dia takut naik karena beberapa kali terjatuh. It's okay. Kami tetep ajak dia untuk cobain terus. 

Kami manfaatkan fase dimana konsep ego atau rasa kepemilikan anak usia 2 tahun sedang berkembang. Sengaja kami biarkan Si Kakak mengendarai balance bike-nya, supaya Sha merasa 'terancam' karena barang miliknya akan diambil orang lain. 

"Ini sepedaku!", tegasnya setiap kali balance bike dipakai Si Kakak. Lalu dinaikinya balance bike itu. Masih takut sih kelihatannya. Tapi karena tidak rela barangnya dipakai orang lain, Sha mau tak mau jadi sering naik balance bike dan belajar mengendarainya.

Dari yang tadinya hanya di dalam rumah, Sha kami ajak untuk berlatih di medan yang lebih luas: di luar rumah. Nah, inilah saat badai mulai datang menerpa. Badai cibiran tetangga nyinyir.

"Duh. Kasian, Mbak. Masak naik sepeda kayak orang jalan kaki gitu. Capek dong dia."

"Loh. Pedalnya mana? Sepeda apaan tuh enggak ada pedal."

"Kok kayak sepedanya topeng monyet sih."

*helanapaspanjang *hembuskan 

Ingin ku marah melampiaskan. Tapi ku hanyalah tersenyum simpul sambil menjelaskan bahwa dengan begini Sha akan lebih cepat bisa bersepeda roda dua. 

Tapi namanya lambe nyinyir kurang enak kalo enggak mencibir. Setiap kali melihat Sha balance bike-an, tetep aja berkomentar yang sama. Tobat deh. Males jelasin panjang lebar terus. Silence is golden.

Setelah kira kira 1 tahun belajar naik balance bike, kami putuskan untuk 'menaikkan level' ke sepeda roda 2. Kami belikan dia sepeda ukuran 12" dengan training wheels (roda bantu). 

Rencana awal sih mau langsung kami lepas roda bantunya. Tapi ternyata Sha masih belum berani dan menolak naik. Akhirnya kami biarkan roda bantu terpasang selama kurang lebih sebulan. Itung-itung Sha belajar mengayuh pedal juga kan. 

Setelahnya, satu roda bantu dicopot, supaya Sha bisa kembali merasakan ketidakseimbangan dan berusaha mengendalikannya. Seminggu kemudian, kami copot kedua training wheels dan... whooosh.. langsung meluncur. 

Sama sekali kami tidak perlu mengajari Sha bersepeda dengan menuntun atau memegangi. Karena Sha sudah menguasai kemampuan dasar bersepeda berkat balance bike, tahap selanjutnya - yaitu mengayuh - akan jauh lebih mudah dilewati. 

Jadi gimana, Mah? Yakin enggak mau mengajari anak bersepeda dengan balance bike

Share kisah sukses ini pada teman-teman Mamah. Biar langsung di-checkout deh tuh balance bike-nya dari marketplace, hehe. 

Selamat mengajari anak bersepeda, Mah :) 

Komentar

  1. Lagi ngetrend ya mbak Muna sekarang bersepeda, yang penting prokesnya jangan lupa

    BalasHapus
  2. ini lagi trend ya mbak
    ada tetanggaku yg juga pakai sepeda seperti ini
    klo aq kebetulan belum pernah kasih anakku nyoba balance bike gini

    BalasHapus

Posting Komentar

Popular Posts

Checklist Isi Tas Persiapan Melahirkan Caesar di Rumah Sakit

Assalamualaikum.. Muna Fitria a.k.a @mamahfaza disini.. Minggu ini, kehamilanku memasuki minggu ke-37. Sebenarnya HPL Baby No.3 ini masih sekitar pertengahan Januari. Tapi karena dia harus dilahirkan secara Caesar, maka operasi dijadwalkan 2 minggu lagi. Sambil menunggu hari-H, jangan sampai lupa, Mah! Ada satu hal penting yang harus dipersiapkan menjelang persalinan, yaitu mengepak tas untuk dibawa saat melahirkan ke rumah sakit. Pastinya kita tidak mau ada yang tertinggal saat menginap di rumah sakit kan. Sebaiknya isi tas persiapan melahirkan ini sudah dipersiapkan sekitar 2 minggu sebelum HPL, just in case si janin lahir lebih awal dari tanggal perkiraan. Saat melahirkan Caesar biasanya dibutuhkan waktu sekitar 3-4 hari untuk tinggal di rumah sakit . Mamah harus  check-in sehari sebelum operasi untuk berbagai pemeriksaan laboratorium dan konsultasi dengan dokter anestesi. Umumnya Mamah sudah diperbolehkan pulang sehari setelah operasi , kecuali ada kondisi yang meng

BULLET JOURNAL INDONESIA UNTUK PEMULA: MONTHLY LOG

Assalamualaikum.. Muna Fitria a.k.a @mamahfaza disini.. Masih dalam rangkaian Tutorial Bullet Journal untuk Pemula, setelah Future Log dan Habit Tracker, sekarang ku akan berikan step-by-step cara membuat Monthly Log. Mumpung masih semangat tahun baru, moga-moga masih semangat bikin bullet journal juga yaaah. Let's get it ! MONTHLY LOG ADALAH ... Monthly Log jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti "Catatan Bulanan". Jadi Monthly Log adalah catatan jadwal acara, peristiwa, atau rencana kegiatan dalam sebulan . Awalnya memang begitu, tapi bukan Bullet Journal namanya kalau tidak bisa disesuaikan dengan kebutuhan pemakainya. Kita bisa menambahkan fitur apapun yang kita butuhkan ke dalam Monthly Log. Misalnya, mau sekalian digabungkan dengan Habit Tracker atau mau menambahkan target bulan ini yang harus dicapai. Boleeeh.. Custom made ajah.. Baca juga: Cara Membuat Bullet Journal untuk Pemula: Habit Tracker MONTHLY LOG DI BULLET JOURNAL BISA

CARA MEMBUAT BULLET JOURNAL UNTUK PEMULA: HABIT TRACKER

Assalamualaikum.. Muna Fitria a.k.a. @mamahfaza di sini.. Kita semua perlu punya kebiasaan baik yang berfaedah dalam hidup. Kalau sampai sekarang masih belum punya, berarti kita harus pilih satu kebiasaan baik yang ingin kita lakukan dan mulai menanamkannya sampai jadi rutinitas. Nah, habit tracker bisa membantu proses ini. Kita bisa menuliskan kegiatan apapun yang kita ingin rutinkan dan catat untuk memantau bisakah kita istiqomah. Misalnya, ingin rutin menghindari makan gorengan demi menghindari kolesterol? Tulis di habit tracker dan mulai wujudkan. HABIT TRACKER ADALAH...  " Habit Tracker " diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia berarti " Pencatat Kebiasaan ". Lalu kenapa kita harus mencatat kebiasaan ( tracking habits )? Penggagas Bullet Journal, Ryder Carroll, dalam salah satu videonya menyampaikan bahwa Habit Tracker adalah salah satu cara sederhana untuk membuat diri kita lebih berkomitmen untuk merutinkan suatu kebiasaan bai