Langsung ke konten utama

Anak Suka Bicara Sendiri & Pura-pura Jadi Orang Lain, Normalkah?

Assalamualaikum
Muna Fitria @mamahfaza disini

anak suka bicara sendiri

Kapan hari ada temen yang cerita kalo anaknya - cewek, usia 4 tahun - sering banget pura-pura jadi guru atau ustadzah. Si anak suka bicara sendiri seakan-akan ada banyak murid di depannya. 

Kalau sudah main seperti ini, si anak bisa betah sampai berjam-jam. Bahkan sehari bisa diulang lebih dari sekali. Ini dimulai kira-kira sejak anaknya usia 2,5 - 3 tahun. 

Nah. Gimana ya? Normalkah kalau anak suka bicara sendiri dan berpura-pura jadi orang lain kayak gini? 

Ternyata model bermain seperti itu dinamakan pretend play. 

Pretend Play

Pretend play, yang biasa disebut juga dengan dramatic play atau role play, adalah permainan pura-pura yang melibatkan anak berperan sebagai orang lain, berperilaku dan berbicara seperti orang lain, dan menggunakan sebuah barang layaknya barang lain (contoh: remote TV sebagai HP).

Manfaat

Belakangan ini diketahui bahwa pretend play sudah sangat jaaarang sekali dimainkan.

Tercatat bahwa pretend play menjadi kegiatan free play 41% anak usia pra-sekolah di tahun 1982namun merosot drastis hingga hanya 9% di tahun 2002. 

Sayang sekali. Padahal anak bisa mendapatkan baaanyak sekali manfaat dari pretend play. Berikut beberapa diantaranya:

1. Memenuhi kebutuhan perkembangan sosial-emosional anak

Kebutuhan sosial-emosional anak salah satunya adalah menjalin hubungan dengan orang lain dan merasa diterima dalam hubungan tersebut.

Di masa pandemi seperti sekarang ini, kasihan juga anak-anak jadi jarang bertemu dengan teman sebayanya. Mereka jadi tidak bisa menambah circle pertemanan atau menjalin hubungan dengan orang selain keluarga. Untungnya, dengan pretend play ini cukup membantu memenuhi kebutuhan sosial-emosional anak tadi.

Kurang sosialisasi? Apa berarti jika anak suka bicara sendiri tandanya dia kurang bermain dengan teman sebaya, atau sosialisasinya dengan dunia luar belum tercukupi?

Tidak juga, sebab saat anak bermain dengan teman-temannya pun biasanya mereka akan main pretend play juga.

Mulai usia 4 tahun, anak sudah masuk tahapan bermain cooperative play, dan pretend play adalah salah satu aktivitas yang bisa dimainkan dengan kooperatif.

Cooperative play adalah tahapan anak bisa bermain bersama orang lain. Anak menaruh perhatian tidak hanya pada aktivitasnya, tapi juga pada orang yang terlibat dalam permainan tersebut.

2. Mengembangkan kemampuan bahasa anak

Bahasa level tinggi. Pretend play begitu tersohor mempunyai peranan penting dalam perkembangan bahasa anak. Beberapa penelitian menemukan bahwa anak-anak yang bermain pretend play sering menggunakan level bahasa yang lebih tinggi daripada yang biasa mereka gunakan sehari-hari.

Meningkatkan perkembangan bahasa. Saat anak berpura-pura menjadi pegawai toko, misalnya. Anak akan menggunakan kalimat yang pernah mereka dengar diucapkan oleh seorang pegawai toko, seperti "Selamat datang di Indogustus. Selamat berbelanja." Dalam situasi normal, jarang akan keluar kalimat tersebut dari mulut anak. Ya kan? Begitulah pretend play bisa merangsang perkembangan bahasa anak.

3. Menstimulasi imajinasi anak

Saat berpura-pura menjadi orang lain, anak membayangkan dirinya melakoni berbagai macam peran. Mulai dari sosok nyata seperti guru atau pegawai toko, hingga karakter fiktif seperti hantu atau princess

Anak berusaha mewujudkan khayalannya senyata mungkin dengan memakai kostum, mengatur setting tempat, atau menggunakan perlengkapan pendukung lain seperti stetoskop atau papan tulis. Dalam berimajinasi, anak otomatis juga sedang mengembangkan kemampuan inteligensinya loh, Mah.

Peran Orangtua

Peran orangtua penting sekali agar anak bisa secara optimal mendapatkan manfaat dari pretend play. Yang bisa orangtua lakukan antara lain:

1. Ikut mendalami peran

Meskipun anak suka bicara sendiri, terkadang anak akan meminta orangtua untuk ikut bermain juga. Misalnya, tiba-tiba anak nyamperin Mamah sambil bawa kertas dan pulpen dan tanya, "Mau pesan apa, Bu?"

Mainkanlah peranmu, Mah! Dari situ, Mamah bisa mengajarkan bagaimana caranya bermain dengan teman, seperti masing-masing punya giliran, harus bisa bekerjasama agar permainan menyenangkan.

Dari situ, anak juga bisa belajar kosakata atau bentuk kalimat baru, bagaimana berinteraksi dengan orang lain, 

"Tapi aku tidak punya waktu untuk terus meladeni anak main." Ngerti banget sih kalo kerjaan Mamah buanyaaak dan sering merasa enggak punya banyak waktu, jadinya enggak sabaran saat main sama anak.

Untuk mengatasinya, Mamah bisa sepakati dulu di awal. "Oke. Mamah akan jadi tamu restoran, tapi sampai jarum jam di angka 3 ya!"

Kalau aku pribadi sih biasanya pakai timer. "Nanti kalau alarmnya udah bunyi, Mamah harus masak ya!" Dengan begitu, jadi sama-sama enak kan?! 

2. Memfasilitasi

Jika anak lagi seneng-senengnya bicara sendiri, orangtua bisa memfasilitasi apa yang menjadi minatnya.

  • Perhatikan peran apa yang sering anak pura-pura mainkan. 
  • Perluas wawasan anak dengan membacakan buku, menunjukkan foto atau video yang berhubungan dengan peran tersebut, atau mengajak anak ke TKP langsung.
  • Bantu anak merealisasikan imajinasinya dengan membantu setting tempat atau menyediakan perlengkapan pendukung dan kostum.
  • Masukkan juga kesempatan untuk belajar baca/tulis. Contohnya saat main toko-tokoan atau restoran, anak bisa belajar membaca atau menulis tanda BUKA / TUTUP, jam buka, menu, name tag pegawai, atau lainnya.
_____________________________

Ternyata kalau anak usia pra-sekolah suka bicara sendiri dan berpura-pura jadi orang lain itu normal ya, Mah. Anak memang sedang berada pada tahapan bermain cooperative play, makanya lagi seneng-senengnya main pretend play. Selain memenuhi kebutuhan sosial emosional anak, pretend play punya banyak manfaat lainnya untuk anak. 

Selamat bermain peran dengan anak, Mah :)

_____________________________

Sumber:
1. Ningrum, Widuri Retno. Agustus 2021. dalam Whatsapp Grup "Kelas Our Montessori Journey Batch 2"
2. Han, Myae. The Power of Pretend Play in Language & Literacy Learning. https://thegeniusofplay.org/genius/expert-advice/articles/the-power-of-pretend-play-in-language-and-literacy-learning.aspx#.YRp2aBQzZ0w (diakses tanggal 16 Agustus 2021)
3. A Child's List of Social Emotional Needs. https://www.heartofconnecting.com/parenting-articles/a-child-s-list-of-social-and-emotional-needs (diakses tanggal 16 Agustus 2021)
4. Lowry, Lauren. 2016. The Land of Make Believe: How and Why to Encourage Pretend Playhttp://www.hanen.org/Helpful-Info/Articles/The-Land-of-Make-Believe.aspx (diakses tanggal 16 Agustus 2021)
5. How Kids Learn to Play: 6 Stages of Play Development. https://pathways.org/kids-learn-play-6-stages-play-development/ (diakses tanggal 16 Agustus 2021)

Komentar

Wiwid Nurwidayati mengatakan…
Wah anakku yang bungsu seperti ini mbak, sampai TK. Kadang saya mengintipnya dia sedang memainkan apa. Tapi dia khusyuk kali bermain. Iya juga, permainannya gini diulang-ulang terus. kadang sampai telat tidur malam.
Alley Hardhiani mengatakan…
Anakku suka nih main role play. Tapi kadang kalau emaknya lg sibuk ngerjain yg lain biasanya tak main bentar atau tak bujuk habis emaknya selesai. Alhamdulillahnya, dia masih mau ngertiin.
Fionaz mengatakan…
Anakq kadang juga suka bicara sendiri atau pura2 jadi tukang bakso atau apa, aq rasa ini wajar karena dia suka nonton yutup lalu dia ngikutin
Dee_Arif mengatakan…
anak anak memang kadang suks bicara sendiri ya mbak
biasanya pas main rumah rumahan, sekalian berimajinasi
Han mengatakan…
Aku jg berpikiran kalau dia bicara sendiri ini normal sih. Jangankan dia, kadang aku juga suka ngomong sendiri wkwkkkw semata karena pengen berdialog sama diri sendiri ajaa karena mikirin sesuatu
Anakku kalo pas ngobrol sendiri terus aku liatin dia langsung berhenti ngomongnya wkkwwkw lucu bangett
Akarui Cha mengatakan…
Nah, pantas saja sesekali aku ketemu di akun Mba Retno Hening misalnya, ia bermain peran dengan anak-anaknya. Penasaran sih sebenarnya, bagaimana bisa begitu. Ternyata memang ada anak yang senang melakukannya, dan biasanya dimulai dari usia balita ya.

Hmm, kelak kalau si kecilku mulai besar, rasanya seru nih kalau bisa ikutan bermain peran sama dia. Banyak pula manfaatnya.
Marita Ningtyas mengatakan…
Aku yang udah jadi emak-emak aja masih suka ngomong sendiri kalau lagi depan laptop wkwk.

Lucu lo lihat anak-anak yang lagi pretend play, apalagi kalau kita juga ikutan ya. Seru bisa jadi apapun yang mereka mau, imajinasinya bener2 tanpa batas :) Orangtuanya yang kudu mengarahkan biar nggak kebablasan, wkwk.
Ghina Rahmatika mengatakan…
Anakku nih suka banget main pretend play. .Emang jadi emaknya yg suka kewalahan. Tapi waktu dia main pretend play kerasa sih kosa kata yg dia dapat dr membaca muncul semua disitu
Mutia Nurul Rahmah mengatakan…
Dulu waktu kecil aku juga pernah main yang seperti ini, kini kumengerti apa yang dimaksud pretend play
Arai Amelya mengatakan…
Kayaknya aku pas kecil suka deh pretend play gini. Mana dulu kan Ayahku kerja jauh dr rumah ,pulang beberapa bulan sekali. Ibu juga sibuk sama sodara, jadi aku sering main sendiri sama lego atau apapun, berjam-jam gitu. Ternyata ada gunanya hehe
Syahri mengatakan…
Jadi inget dgn anak saya yg cewek yg masih berusia 3 tahun, kalo gak ada teman sebayanya dia sering ngomong2 sendiri dengan benda. Saya sering perhatikan dia seperti itu. Sempat ada kekhawatiran sih, tapi saya rasa dia hanya buruh teman buat ngobrol aja. Mudah2an gak apa apa ya
Yurmawita mengatakan…
Aaahh ingat anakku yang kedua suka banget cerita sama apa saja dan siapa saja. Ia punya banyak imajinasi dengan kosakata yang banyak. Sekarang sudah kelas 8 perkembangan kognitif dan berfikir kreatifnya bagus, mungkin sebab ia senang berbicara dan berimajinasi saat kecil
Nanie mengatakan…
Anak sulung ku nih, sampai umur 7 tahun masih suka banget bermain Peran seperti ini. Ternyata namanya pretend play ya.

Yang paling favoritnya sih bermain jual-jualan atau jadi kurir mengantarkan paket.
Siska Dwyta mengatakan…
Jadi ingat waktu kecil juga saya suka ngomong sama diri sendiri dan main peran seperti yang Mbak bahas ini.. cuma saya lupa waktu itu umur berapa ya? Kayaknya udah TK atau SD.

nah ternyata itu adalah jenis permainan yang normal ya dan justru banyak manfaatnya jadi kalau anak suka bermain peran seperti ini kita sebagai orang tua harus dukung ya... *Noted banget nih
Happy Hawra mengatakan…
ini kalau aku yang udah 25 masih suka ngomong sendiri juga normal gak kak? 😂
Nita Juwithafina mengatakan…
Fave anak aku juga mba..
kalo anak aku senengnya dia jadi chef, kami jadi pembelinya hehe lucu dan asik
Khairunnisa Z Putri mengatakan…
Aku ingat waktu TK suka bermain sendiri, dengan seolah menjadi koki, atau guru, atau bakan bermain dengan menggunakan media, yaitu berbie kertas. Eh ternyata baru tahu nama pretend play. Hihi
Tira Soekardi mengatakan…
anakku yang kedua suak ngomong sendiri, selain itu juga dia suka menghibur sendiri karena suak sendirian di rumah karena aku tinggal bekerja. Dan itu sampai dia besar, teriutama kalau mandi
fanny_dcatqueen mengatakan…
Aku ga pernah kuatir kalo anakku bicara sendiri sambil bermain gini, karena aku dulu pas anak2 juga selalu begitu mba :D. Apalagi ortu sibuk 2-2 nya, babysitterpun ga terlalu asik diajak main begini :D. Jadinya ya main sendiri dan pura2 ngomong.

Makanya pas anakku pernah aku liat pretend play dengan boneka2 nya, aku malah senang. Krn memang bisa menstimulasi kreatifitas dia, bahasa dia :). Tapi pernah juga dia pura2 memarahi bonekanya, dgn kata2 yg sama yg aku pernah pakai pas marahin anak2 hahahah. Harus hati2 memang jangan sampai dia meniru yg jelek :)

Popular Posts

Les Coding Anak Tidak Susah Kok; Ini Pengalaman Anakku Ikut Kelas Hacktivkidz

Assalamualaikum Muna Fitria a.k.a @mamahfaza disini.  Alasan mendasar pengin mendaftarkan les coding anak buat Si Kakak, anak pertamaku, adalah karena gampang-gampang susah loh memilih aktivitas buat anak usia 11 tahun.  Aku pengin mencari kegiatan yang bisa jadi hobi dan kesibukan dia agar waktunya produktif, yang sesuai dengan minatnya, yang menantang, dan sekaligus yang bisa digunakan untuk mengasah keterampilan untuk karir di masa depan. Setelah selidik sana-sini, membandingkan ini-itu, dan musyawarah dengan Si Papah, alhamdulillah kami memutuskan bahwa kegiatan yang memenuhi semua kriteria di atas adalah BELAJAR CODING . "Hah? Coding ? Itu yang untuk membuat program komputer sama aplikasi hape itu kan? Belajar coding untuk anak apa engga terlalu susah?" I know.. I know..  Awalnya aku juga mikir gitu. Tapi setelah nyoba belajar di sekolah coding anak Hacktivkidz, kekhawatiran itu terpatahkan. Hacktivkidz by Hacktiv8 Hacktiv8 adalah lembaga pendidikan yang memberikan p

Checklist Isi Tas Persiapan Melahirkan Caesar di Rumah Sakit

Assalamualaikum.. Muna Fitria a.k.a @mamahfaza disini.. Minggu ini, kehamilanku memasuki minggu ke-37. Sebenarnya HPL Baby No.3 ini masih sekitar pertengahan Januari. Tapi karena dia harus dilahirkan secara Caesar, maka operasi dijadwalkan 2 minggu lagi. Sambil menunggu hari-H, jangan sampai lupa, Mah! Ada satu hal penting yang harus dipersiapkan menjelang persalinan, yaitu mengepak tas untuk dibawa saat melahirkan ke rumah sakit. Pastinya kita tidak mau ada yang tertinggal saat menginap di rumah sakit kan. Sebaiknya isi tas persiapan melahirkan ini sudah dipersiapkan sekitar 2 minggu sebelum HPL, just in case si janin lahir lebih awal dari tanggal perkiraan. Saat melahirkan Caesar biasanya dibutuhkan waktu sekitar 3-4 hari untuk tinggal di rumah sakit . Mamah harus  check-in sehari sebelum operasi untuk berbagai pemeriksaan laboratorium dan konsultasi dengan dokter anestesi. Umumnya Mamah sudah diperbolehkan pulang sehari setelah operasi , kecuali ada kondisi yang meng

Kombinasi Nutrisi & Kandungan Serum Pencerah Wajah Terbaik untuk Usia 20-an

Assalamualaikum Muna Fitria a.k.a @mamahfaza disini Serum pencerah wajah terbaik bukan yang memutihkan ya! Mindset kita rasanya sudah lama 'diracuni' dengan standar kecantikan yang salah kaprah. 'Memiliki wajah berkulit putih' selalu yang digaungkan menjadi tujuan dalam rangkaian perawatan kulit wajah. Tidak jarang juga model iklan yang terpampang adalah bule atau eonni Korea dengan karakteristik kulit yang jauh berbeda dengan kulit kita. Padahal penduduk Indonesia kan termasuk dalam ras Malayan Mongoloid yang memiliki ciri khas warna kulit sawo matang. Pola pikir inilah yang perlu diubah mulai sekarang. Standar kecantikan wanita Indonesia seharusnya bukanlah yang berkulit putih. Meskipun dengan warna kulit agak kecokelatan, wanita Indonesia bisa tetap tampil cantik dengan kulit wajah cerah dan tidak kusam. Mindset  lain yang perlu diperbaiki adalah pentingnya asupan nutrisi untuk melengkapi perawatan kulit. Tidak cukup dengan produk perawatan wajah, pola makan, gaya